Tips Memotret Makanan
Oleh Arfi Binsted - Tuakau, New
Zealand
Anggota WOL di Multiply
Ketika
diminta oleh editor WOL untuk
menulis artikel tentang food
photography, aku sedikit meringis.
Masalahnya menjelaskan sesuatu
dengan sedikit tulisan dengan sebuah
foto rasanya tidak akan terlalu
dapat membantu, karena dalam
prakteknya fotografi memang
memerlukan visual yang banyak untuk
setidaknya mampu menjelaskan setiap
elemen yang terkait di dalamnya.
Aku tidak memiliki
gadget yang mahal seperti
peralatan-peralatan studio,
alat-alatku hanyalah sebuah kamera,
dua lensa, dan dua buah DIY
reflector. Aku juga tidak
punya tripod. Aku hanya mengandalkan
kekuatan kedua tanganku dan jika
memang perlu, aku menumpuk buku-buku
tebal di atas meja dan meletakkan
kamera di atasnya.
Sebetulnya untuk menjadi profesional
memang setidaknya memiliki studio
dengan peralatan yang lengkap,
tetapi sebagai
food photography enthusiast
dan
food blogger rumahan, kita
dapat meminimaliskan
peralatan-peralatan perang super
mahal untuk fotografi pada umumnya
dengan bahan-bahan yang dapat kita
temukan di sekeliling kita. Misalnya
seperti reflector, dapat dibuat
sendiri dari
Styrofoam atau
cake board yang dilapisi
kertas timah. Selama ini kedua
barang tersebut sangat membantu di
dalam setiap pemotretan foto-fotoku.
Pengenalan kamera sangat perlu.
Banyak orang memiliki kamera tapi
masih sangat buta dengan
fungsi-fungsi yang ada di dalam
kamera tersebut. Fungsi-fungsi ini
musti diakrabi sehingga pelaksanaan
pemotretan dapat berjalan dengan
lancar karena anda sudah terbiasa
dengan pengoperasiannya.
Dalam
food photography ada
elemen-elemen tertentu yang patut
diperhatikan:
1.
Konsep dan Komunikasi.
Sebelum memotret di lapangan, apa
kerangka pemikiran di kepala anda,
point-point yang harus
dilaksanakan, juga elemen-elemen
pendukung manakah yang harus dipilih
untuk memberikan sebuah 'pesan'
kepada
audience. Misalnya, jika anda
memotret seiris semangka, apa yang
anda bisa komunikasikan terhadap
audience tentang semangka itu?
Berupa bentuk, rasa, kegunaan, atau
ide-ide lain yang ada di benak anda,
anda dapat menyampaikannya ke dalam
bentuk sebuah foto, sehingga
audience[/i mengerti dan dapat ikut
'merasakan' sajian makanan tersebut.
2.
Komposisi. Sangat penting
karena komposisi mewakili tata letak
dimana obyek menjadi sasaran tembak
mata para [i]audience/i]. Ikuti [i]rule
of thirds mungkin lebih aman
meskipun aturan ini dapat dilanggar
sesuai dengan ide dan kreativitas
fotografer itu sendiri. Peletakkan
makanan di dalam frame foto dapat
divariasikan, sesuai dengan kondisi
dan konsep awal tadi. Lebih jauh
lagi kadangkala komposisi sangat
susah diterjemahkan lewat kata-kata
karena mata kita dapat mengetahui
tata letak yang baik melalui banyak
perbandingan.
3.
Lighting. Pencahayaan
merupakan sebuah 'must-do'
point yang memang harus
banyak mendapat perhatian. Harus
dilihat darimana cahaya datang, di
sisi mana dari makanan tersebut yang
perlu diberi 'highlight' lewat lampu
atau
reflector, sehingga tekstur
makanan tersebut dapat ditangkap
oleh kamera dan dinikmati oleh
audience.
4.
Styling. Foto yang enak
dilihat itu selalu foto-foto yang
stylish, meskipun tidak
berarti musti meriah. Fokus masih
pada makanan tetapi
food styling merupakan tata
estetika penyajian makanan yang
dapat menjadikan makanan tersebut
indah dipandang dan menggugah selera.
Menambahkan hiasan seperti irisan
kulit jeruk atau potongan kulit
jeruk di atas irisan lemon tart,
misalnya akan dapat menambah nilai
estetika dalam penyajian makanan.
Styling tidak musti harus
dihias terlalu banyak, tetapi
sederhana dan fokus tetap kepada
makanan.
5.
Property. Barang-barang pecah
belah mulai dari sendok-garpu,
taplak meja, napkin, piring, mangkuk,
keranjang roti, dan sebagainya
merupakan barang-barang perlengkapan
food photography yang juga
mendukung estetika penyajian makanan.
Pemilihan
property juga harus mendapat
perhatian yang kritis karena
pemakaian
property yang tidak sesuai
akan memindahkan perhatian
audience kepada
property dari fokus makanan
tersebut, kecuali jika pemotretannya
difokuskan kepada
property atau iklan
property (barang-barang pecah
belah dalam hal ini), hal ini tidak
jadi soal.
Untuk melengkapi artikel ini, editor
meminta satu buah foto lengkap
dengan EXIF data. Berikut foto dan
data-datanya.
Judul Foto:
Brussels Sprouts with Lemon-Mustard
Dressing.
Konsep dan Komunikasi:
Simple side dish with simple
setting, using simple ingredients,
dengan menggunakan
property yang sederhana saja.
Komposisi:
rule of thirds.
Lighting: posisi
main light berada di depan
kamera, sementara
reflector berada di sebelah
atas untuk
highlight bentuk Brussels
sprouts. Jika anda melihat sebuah
Brussels sprout paling atas, sinar
yang didapat berasal dari
reflector.
Styling: sederhana saja
dengan memfokuskan kepada semangkuk
side dish, dengan bahan utama
Brussels sprouts dan penambahan
warna dari
napkin.
Property: mangkuk,
napkin, dan taplak meja.
Pemakaian warna merah dari dalam
mangkuk dan napkin disesuaikan
dengan warna merah minoritas dari
chili flakes.

Data teknis sebagai
berikut:
focal length: 50.0mm
exposure time: 1/125
aperture: f/2.2
ISO: 200
flash: not used
Untuk memotret makanan aku tidak
pernah pakai
flash, karena cahaya dari
flash membuat makanan
kelihatan
flat.
Beberapa kebiasaan yang selalu aku
lakukan dalam pemotretan foto
barangkali dapat menjadi
point-point tambahan untuk
teman-teman lainnya:
1. Memotret satu obyek tidak cuma
sekali atau dua kali petik, tapi
ratusan, dengan pengubahan
setting, style, komposisi,
juga
lighting. Dengan begitu foto
yang layak pajang besar
kemungkinannya dapat diperoleh.
2. Memotret dengan sudut yang
berbeda untuk mendapatkan variasi
shots yang layak tampil.
Tidak musti terpaku hanya pada satu
layout saja, tapi
bereksperimen dengan sudut-sudut 45,
90, dan lain-lain. Dari situ dapat
diketahui sudut yang mana yang
paling pas untuk sebuah obyek foto
tertentu. Ada makanan yang memiliki
hiasan yang banyak sebagai
topping, jika dipotret dari
sudut 45 derajat bakalan tidak dapat
memenuhi
frame foto, tapi jika diambil
pemotretan dari atas, misalnya, akan
dapat memperlihatkan desain makanan
tersebut lebih detil lagi.
3. Banyak melakukan eksperimen
karena
food photography dan
still life memiliki banyak
teknis yang berbeda. Dengan
permainan komposisi dan
lighting, didukung oleh
styling yang berbeda,
eksperimen dapat menjadi
investment yang bagus untuk
ke depannya. Dengan bereksperimen
kita jadi lebih tahu fungsi kamera
yang mana yang cocok untuk teknis
tertentu dan menunjang komposisi
serta
styling terpilih.
4. Ikuti
photo events dimana pun
berada dan darimana pun berasal.
Lewat kompetisi seperti ini selain
mempelajari teknik-teknik dan
styling baru, kita pun dapat
menambah wawasan terhadap pandangan
orang lain sekaligus sebagai ajang
menambah teman dan
networking. Tidak selalu
musti menang karena foto yang bagus
tidak selalu harus ditempeli
awards, kok. Kalau masyarakat
umum yang melihat foto anda dan
sudah mengaguminya meskipun tanpa
dapat
award apapun, itu sudah
merupakan kemenangan tersendiri.
Kadang-kadang
photo events are just about prestige
dan
judges juga manusia yang
memiliki selera yang berbeda. Namun
demikian kita dapat melihat di sisi
positif dari photo events yaitu
sebagai kumpulan foto-foto dengan
tingkat ketrampilan yang berbeda dan
juga sebagai wahana pembelajaran
sampai dimana ketrampilan anda
sekarang.
5.
Practice makes perfect!
Sesuai dengan
point no.3, memperbanyak
latihan dengan berbagai styling
dapat semakin mengasah ketrampilan
anda hingga anda pun siap meraih
jenjang ke tingkat profesional.
(Artikel lain berbahasa Inggris
dapat disimak di Desserts Magazine
Issue #4)
http://www.dessertsmag.com/desserts-magazine/issue4/#/115/

Ucapan terima kasih
WOL mengucapkan terima kasih
kepada Arfi Binsted yang telah
bersedia meluangkan waktu memberikan
sumbangan artikel dan tips
menariknya diantara kesibukannya
sebagai profesional photographer.
Tentunya, WOL berharap, Arfi akan
lebih sukses lagi dimasa datang.
Bagi rekan-rekan WOL yang berminat
untuk menikmati karya-karya
fotografi dan artikel lainnya dari
rekan kita Arfi, silakan mengunjungi
link berikut:
HomeMadeS (http://homemades.blogspot.com)
HomeMades PhotoStream (http://www.flickr.com/photos/homemades/)
_________________