Pesan bersahabat dari seorang teman: ketabahan
Oleh Lucie Indria Clemence - Maine, USA
Anggota Forum WOL


~Terima kasih untuk ibu saya yang selalu memberi nasihat~

Apakah benar kita hidup di dunia ini sebenarnya cuma sebatas tabah atau tidaknya kita menghadapi cobaan? Terkadang saya suka berpikir tentang kenapa seseorang hidupnya begitu bahagianya, tidak kurang suatu apapun, suami ganteng, anak lucu-lucu, tidak kekurangan dan seseorang lagi hidupnya begitu menderitanya, suami tidak setia, orang tua bercerai, atau seseorang lagi hidupnya harus penuh perjuangan, sulit mencari nafkah, harus bekerja sekuat tenaga untuk bisa menghidupi anak dan istri, ataupun bencana alam yang terjadi dimana-mana dan segala macam problema kehidupan lainnya. Saya sering sekali menyempatkan waktu berpikir kenapa hidup begitu kisruhnya, suatu negara yang sekelompok masyarakatnya selalu ingin berperang, rakyatnya hidupnya begitu menderita, satu persatu keluarganya dibantai, yang tersisa hanya dirinya sendiri yang kebetulan selamat. Ada banyak jendela pemikiran di dalam tiap-tiap cobaan yang tidak mudah untuk dipahami. Semuanya menempatkan saya dalam posisi betapa kecilnya kita dihadapanNya.

Ketika saya masih kecil saya sering mendengarkan cerita dari nenek atau orang tua saya sendiri bagaimana susahnya kehidupan di jamannya, suasana prihatin, hidup di jaman penjajahan dan susahnya ekonomi dan lain sebagainya. Cerita-cerita yang saya dengar atau berita-berita yang saya baca atau lihat di televisi terekam dengan lengkapnya di kepala saya. Bagaimana tabahnya dan kuatnya orang-orang itu menghadapi kendala-kendala hidup yang terjal dan penuh duri. Kemampuan manusia untuk bertahan di dalam penderitaannya saya kira adalah sesuatu yang sangat menakjubkan. Bagaimana Tuhan memberi seseorang tenaga dan pikiran ganda di dalam tubuh seseorang yang kecil dan tidak berdaya bisa menghadapi cobaan-cobaan yang terjadi di dalam hidup ini untuk bisa terus berjalan dan melewati hari demi hari yang diberikan kepadanya. Bagaimana seseorang sudah begitu putusasanya dan mencoba terus berjalan melewati kendala baik lahir atau bathin untuk bisa terus melihat matahari keesokan harinya dan seseorang lagi mengatakan sudah tidak mampu lagi dan mengakhiri hidupnya dengan jalan singkat yaitu bunuh diri.

Apakah rahasia ketabahan itu?

Sungguh beruntungnya seseorang yang lahir di dalam suasana dan kehidupan yang penuh cinta kasih dan tidak pernah ada masalah yang berarti di dalam hidupnya. Bagaimana dengan seseorang yang lahir di dalam suasana penuh keprihatinan dan penuh air mata? Bagaimana dunia bisa diciptakan seperti itu? Saya mencoba memperbandingkan keadaan suatu negara dengan negara yang lain, bagaimana suatu negara bisa begitu hebatnya dengan kekuatan ekonominya dan segala keadaan yang begitu tertib dan teraturnya tetapi mengapa masyarakatnya sering masih dihinggapi dengan segala permasalahan sosial, stress-nya kehidupan ataupun tekanan-tekanan ekonomi yang masih juga tidak berhenti mendera, terus berjuang untuk bisa survive di dalam masyarakatnya. Sehingga kadang tidak sering pula orang-orang tersebut harus mencari jalan keluar dengan seringnya pergi ke tempat-tempat hiburan untuk mengurangi kecemasan dengan menghabiskan beberapa botol minuman-minuman keras atau memakai obat-obatan lainnya.

Di sisi lain, suatu negara yang masyarakatnya hidup di dalam suasana keprihatinan, bekerja keras hari-hari demi hari untuk bisa menghidupi dirinya atau anak istrinya tapi sekelompok orang-orang tersebut bisa melalui hari-harinya tanpa terlalu banyak kecemasan dan mempunyai iman bahwa Tuhan akan membantunya setiap hari. Adalah benar pepatah yang mengatakan manusia itu ketabahannya bukan dilihat dari segi kekuatan materi atau fisik semata, tetapi dari kuatnya hati seseorang untuk bisa selalu melihat dan melewati hidupnya dengan sabar. Saya selalu diingatkan untuk selalu berpikir seperti pepatah kuno orang Jawa pada umumnya, “ojo dumeh, ojo kagetan.” Ini adalah prinsip hidup yang saya ingat dari salah satu petinggi negara kita yang sudah almarhum yang artinya di dalam hidup ini janganlah kita mudah terkejut atau mudah terkagum-kagum dengan sesuatu yang kelihatannya hebat seperti mahligai. Semua di dalam hidup ini harus kita hadapi biasa saja, boleh senang atau bangga tapi bukan menjadi seseuatu yang membuat kita menjadi lupa diri atau takabur. Saya kira itu juga adalah prinsip hidup yang penting kita resapi. Prinsip lain yang saya ingat adalah jadilah seperti air di muara. Dimanapun muara tidak ada pernah menerima sesuatu yang kotor, segala kotoran bisanya akan tersibak dengan sendirinya menjauhi muara itu. Sama halnya dengan prinsip hidup seperti air dan minyak, Yang jelas air dan minyak tidak akan pernah bercampur. Yang berarti segala yang bersih tidak akan bisa bercampur dengan segala yang kotor. Alam akan mengatur bagaimana supaya kotoran tidak bisa bercampur di dalam sesuatu yang bersih. Sama halnya seperti hidup manusia. Tidak ada manusia yang bisa luput dari kesalahan tetapi seperti timbangan pula, apabila timbangan manusia itu penuh kebaikan, energi baik dari manusia tersebut akan secara otomatis menyaring segala yang kurang baik untuk bisa masuk di dalam hatinya.

Betapapun berat dan sulitnya kehidupan tetapi apabila manusia tersebut adalah manusia yang bersih hatinya, dengan ijin Tuhan, akan selalu ada jalan keluar dari kesulitannnya. Mencari jalan keluar dari kesulitan adalah bukan sesuatu yang mudah, penuh duri dan air mata tetapi itu adalah yang dinamakan ketabahan. Ukuran ketabahan manusia itu berbeda-beda dan relatif. Kadang tanpa diduga bantuan itu bisa datang dari manapun dengan tidak disangka-sangka. Pentingnya kita hidup ini untuk mempunyai iman dan percaya kepada Tuhan, agar kita selalu tertolong dalam kesulitan apapun yang kita hadapi di dalam hidup ini.
Hidup itu seperti mengupas kulit bawang, berlapis-lapir. Setiap kali kita mengupas kulit bawang selalu ada lapisan lainnya
. Yang berarti hidup itu adalah cobaan yang tidak henti, cobaan itu bisa berbagai-bagai, kesenangan bisa berarti cobaan, sama juga dengan kesusahan. Jadi senang dan susah itu bisa juga cobaan yang menguji iman kita. Cobaan di dalam hidup manusia itu bisa sangat penuh tipuan. Ingat juga dengan pepatah hidup itu seperti roda pedati, kadang berputar ke atas, kadang juga berputar ke bawah. Siap-siaplah karena kita akan selalu menerima cobaan dalam hidup ini, apapun bentuknya, baik itu cobaan besar atau cobaan kecil. Jangan lupa diri karena kesenangan, kuatkan hati dan cobalah bersabar apabila sedang susah. Ada sekelompok manusia yang sangat santai dalam menghadapi hidupnya atau sangat serius, itu bukan masalah, karena semuanya mengalir ke arah yang sama.

Kita adalah saksi terhadap hidup kita sendiri. Hanya bersyukurlah apabila kita termasuk di dalam kelompok orang-orang yang selalu terlindungi. Kita tidak berada di tempat atau suasana yang penuh ketakutan seperti peperangan atau hal-hal seperti yang terjadi dimana-mana di dunia ini. Yang saya bisa lakukan apabila melihat atau mendengar hal-hal sedih seperti itu ataupun lainnya biasanya saya berucap di dalam hati, ya Tuhan, maafkan saya, berikanlah kekuatan kepada orang yang menghadapi kesusahan tersebut. Kita kadang suka lupa bersyukur, kurang terima dengan keadaan diri kita. Bersyukur dengan tulus bukan sesuatu yang mudah karena itu adalah proses kerja yang berkelanjutan, yang tidak pernah berhenti selama kita hidup. Dalam susah atau senang, dalam sakit atau sehat kita akan melihat dalam proses bersyukur, kita akan belajar untuk bisa menjadi orang yang tabah dan lebih kuat tanpa kita sadari. Saya menyadari tidak mudah untuk mengingat ini terutama apabila kita sedang bersedih atau dilanda kesusahan tetapi apabila kita mau berhenti sejenak, kita sadari atau tidak, hati nurani kita selalu mengingatkan untuk selalu bersabar dalam cobaan.

Ketika saya melihat abang-abang becak di daerah saya di tanah air, sedang tertidur pulas di becaknya disiang yang terik di bawah rindangnya pepohonan. Hati saya menjadi terenyuh. Kemiskinan tidak membuat sesorang menjadi lumpuh hati. Ketabahan itu relatif bagaimana sesorang menjalaninya. Ketabahan itu bukan berarti kita tidak boleh menangis. Manusia itu bukan malaikat, manusia dikaruniai Tuhan dengan berbagai macam perasaan, senang, susah, marah ataupun benci. Ketabahan itu bukan berarti kita tidak boleh bersedih tapi harus juga terus berusaha dengan penuh kejujuran hati dan sabar. Ingat pepatah jadilah air di muara, supaya hati kita selalu bersih. Hiduplah dengan rendah hati dan penuh kejujuran dan berbaik-baiklah terhadap sesama. Hidup manusia akan berarti apabila manusia tersebut berguna bagi manusia lainnya. Bukan masalah kekayaan atau materi kalau kita kurang mampu memberi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, paling tidak berusaha untuk berbuat baik adalah juga amalan, tidak perduli bagaimana sikap dan tingkah laku orang-orang di sekitar kita. Apabila hati kita selalu terjaga, alam atau universe akan sayang kepada kita. Dan saya percaya, bagaimana sulitnya atau senangnya hidup, intinya cuma satu, ketabahan itu adalah kesederhanaan dan ketulusan seseorang dalam menerima hidupnya. Seperti yang selalu dikatakan oleh ibu saya berulang-ulang.

 

  

** Kami pengurus WOL sangat berterima kasih pada Lucie yang bersedia untuk berbagi pesan persahabatan ini nya kepada sahabat sahabat di WOL ini.