Artikel:: Sosial Budaya
Perempuan Antara Kodrat, Budaya dan Kemandirian Berpikir
Oleh Ria Jumriati - Jakarta, Indonesia
Moderator Milis, Forum, Multiply dan Editor e-Newsletter

 

Di negara-negara yang menganut sistem patrialistik dimana kaum lelaki yang lebih dominan, memang banyak mengacu pada budaya bahkan agama yang memang telah mengatur bahwa kaum Adam lah yang paling berhak dalam proses pengambilan keputusan-keputusan penting dalam hidup. Sedangkan perempuan, yang kerap dikaitkan pada kodratnya sebagai mahluk yang lemah dan butuh perlindungan, akhirnya hanya mendapat peran sebagai pendamping yang hanya memiliki sedikit hak sebagai penentu, namun dibebani dengan berbagai kewajiban.

Dalam beberapa tatanan kultur budaya yang ada di Indonesia. Terdapat contoh-contoh dimana perempuan hanyalah sebagai gender yang terpinggirkan. Misalnya ada satu suku di Papua yang memperbolehkan kaum lelaki menikahi sebanyak mungkin wanita, tergantung dari banyaknya jumlah babi yang dimilikinya. Atau pentingnya penerus marga di budaya Batak yang menganut sistem Patrilineal atau garis keturunan ayah. Sedangkan Ibu hanya dianggap sebagai pendatang di keluarga Ayah. Anak laki-laki pun dianggap sebagai anak yang berharga karena akan membawa marga dan nama keluarga. Maka, jadilah semua anak yang lahir akan memakai marga yang sama dengan ayahnya. Hingga tak jarang ditemui kemirisan, bila seorang perempuan Batak, yang hanya bisa melahirkan anak-anak perempuan, maka dengan segenap kerelaan hati dianjurkan untuk membiarkan suaminya menikahi wanita lain demi mendapatkan anak laki-laki. Belum lagi konteks poligami yang mengatasnamakan agama, namun diimplementasikan secara salah karena hanya berkiblat pada pemuasan hasrat birahi satu gender semata.

Beratus tahun lamanya, keadaan itu harus diterima, dijalankan dan dibiasakan menjadi hal yang lumrah demi menjunjung tinggi adat istiadat, yang bila dilanggar konon akan mendatangkan karma tersendiri. Setidaknya, begitulah doktrin sesat yang harus diterima oleh kaum perempuan yang terpaksa berdiam pasrah pada “Comfort Zone” dimana ketidakwajaran harus menjadi bagian dari hidup mereka turun temurun. Dan akhirnya, perempuan sampai saat ini masih menjadi kaum marjinal dalam berbagai sendi kehidupan, meski gaung persamaan gender semakin keras disuarakan di belahan bumi manapun.

Meskipun banyak bermunculan komunitas feminis yang semakin berani menyuarakan hak dan persamaan hidup dengan kaum lelaki, namun pada kenyataannya tidaklah mudah mengikis doktrin budaya yang terlanjur melekat menjadi satu paket dengan keyakinan pribadi masing-masing individu. Benturan-benturan itu terkadang menghadirkan dilematis tersendiri pada pola pikir khususnya untuk perempuan yang hidup di budaya timur yang masih terkukung pada kerangkeng budaya dan agama. Peran sebagai istri dan ibu pun menjadi andil bagi keterbatasan pada tujuan untuk menjadi sosok wanita yang mandiri dan berani. Tak mudah mengikis peran sosial budaya yang terlanjur mengakar dan mendarah daging di kehidupan perempuan dari budaya timur. Pengertian baku tentang perempuan ’hanya’ sebagai pendamping lelaki terlanjur menjadi bagian dari kehidupan satu budaya yang tentunya menjadi doktrin mati yang mau tak mau harus dipatuhi.

Untuk merubah keadaan ini, perempuan harus berani merubah sikap dan cara berfikir yang diawali dengan pendefinisian kembali kedudukan dan peran perempuan—kemampuan untuk sebagai independent thinker. Kemampuan untuk menjadi independent thinker ini memang harus diciptakan oleh setiap wanita berdasarkan pengalaman dan observasi pribadi, lalu menarik kesimpulan mengenai benar atau salahnya tanpa dipengaruhi kesimpangsiuran banyak pendapat. Menerima bulat-bulat segala informasi dalam bentuk petuah dan nasehat dari orang tua bahkan nenek moyang, memang masih menjadi satu kendala yang bila dipaksakan pada realita yang sesungguhnya, tentu akan semakin terlihat seperti minyak dengan air. Tak akan pernah ada percampuran yang harmoni. Mengasah kemampuan diri, percaya dan bangga pada apapun bakat yang kita miliki memang membutuhkan satu kebesaran jiwa diantara masih sempitnya ruang publik yang tersedia untuk wanita. Upaya ’trial-error’ atas segala keberanian mengemukakan pendapat dan berani mengambil resiko penolakan bahkan pengucilan dari kaum perempuan itu sendiri. Karena pada kenyataannya, masih banyak kita temui perempuan yang terlanjur memilih jalur aman dan rela hidup dalam kerangka pemikiran konvensional yang tentunya akan semakin menggeser perannya sendiri di masyarakat dunia.

Dan selalu ada konsekuensi dari sebuah pilihan. Tapi setiap pilihan tentu punya hikmah tersendiri bagi terwujudnya pencapaian keseimbangan hidup. Memang tidak mudah, butuh konsistensi dan kemantaban hati untuk melakukan serangkaian perjuangan yang panjang, terjal bahkan mendaki. Namun, setiap wanita harus memiliki tekad dan semangat baik secara indvidu atau kelompok untuk kembali terlahir sebagai manusia yang independent dalam berpikir tanpa harus menjadi pesaing tak sehat kaum lelaki, yang keberadaannya tetap menjadi penyempurna hidup wanita. [/i]Karena perempuan dimana dan apapun bentuk dan kepribadiannya, adalah sosok manusia yang perlu dan harus mendapat tempat terlayak dengan tatanan kehidupan yang wajar tanpa harus mengalah dan selalu menjadi pihak yang dikorbankan atas nama adat istiadat dan agama sekalipun. Keselarasan dan harmonisasi untuk berdiri tegak antara kodrat, budaya dan pola pikir mandiri sebagai sosok perempuan harus terus ditanamkan, diaplikasikan dalam hidup dan tentunya berani untuk menangkis segala resiko sosial dengan keluwesan sebagai seorang perempuan dan individu yang mandiri serta memiliki kesejajaran dengan pasangan hidup/suami.

Tulisan ini senantiasa mengajak seluruh perempuan dimanapun berada, untuk menjadi ”Independent Thinker” jauh dari belenggu adat dan predikat sosial yang konvensional di masyarakat. Dan yang lebih penting adalah sebagai partner yang punya suara dan hak yang sama dalam keseimbangan dan kesuksesan seorang laki-laki.