ANNORA
Oleh De Veha—Canberra, Australia
Anggota WOL di Multiply


Kulihat seorang Ibu berusia empat puluhan sedang melamun di teras depan rumahnya. Beliau memperhatikan anak-anaknya bermain sepeda yang ditemani oleh pengasuh. Namun tatapan beliau kosong, matanya sendu, dan seakan pikirannya terbang melayang bebas.

Anak perempuannya yang dipanggil Asha dan anak laki-lakinya, Kiki, tampak bahagia dan tertawa lepas. Asha baru saja dibelikan sepeda roda empat agar dirinya terhibur. Beberapa kali pengasuhnya mencoba untuk mendorong sepeda yang dinaiki oleh Asha, tetapi Asha menolak karena Kiki ingin mendorong. Kejadian ini membuyarkan lamunan sang Ibu.

“Asha, biarkan Mbak Siti yang mendorong sepedanya.” kata beliau pada Asha.
“Nggak usah. Adek Kiki yang mau dorong, Ma..” balas Asha polos.
Seketika itu, air mata beliau tanpa sengaja keluar. Makin deras linangan air mata memenuhi wajahnya. Beliau usap pelan dengan sapu tangan miliknya. Kemudian bergegas masuk ke dalam rumah agar Asha tidak melihat beliau menangis.
Asha yang berumur tiga tahun, sudah pintar berbicara. Kelihatan sekali Ia sangat menyayangi adiknya, Kiki. Keduanya sangat akur. Kadang bergantian Kiki yang menaiki sepeda dan Asha yang mendorong. Sampai-sampai Mbak Siti kebingungan melihat polah Asha dan ikut masuk ke dalam rumah setelah dipanggil oleh Ibu. Tidak lama kemudian, Asha menyadari kehadiranku. Si cantik ini memanggil, “Tante, sini!” ajaknya. Aku menghampirinya.
“Tante, tetangga baru ya? Kok Asha baru lihat? Rumah tante dimana?...” pertanyaan bertubi-tubi datang dari Asha.
“Iya. Tante tinggalnya dibelakang sana, sayang.” jawabku sembari menunjuk belakang rumahnya.
“Oh iya, ini Kiki. Adeknya Asha. Setiap hari kita selalu main berdua. Iya Ki?”, kata Asha meyakinkan adiknya itu. Kiki belum sepenuhnya mengerti ucapan Asha.
“Tante, Asha dan Kiki mau masuk dulu ya. Asha takut dimarahin Mama karena sudah mau Maghrib. Tapi, besok kita main sama-sama ya Tante.” ajak Asha. Mereka berdua pun melambaikan tangan padaku dan segera beranjak ke dalam rumah.


Asha. Kupanggil dirinya si cantik. Rambutnya bak potongan laki-laki, bergaya tomboy. Namun hatinya amat penyayang, terutama pada Kiki. Tubuhnya sehat dan enerjik seperti anak-anak lain seusianya. Kesehariannya hanya bermain bersama Kiki dan ditemani oleh Mbak Siti di rumah, sebab Ia belum memasuki dunia sekolah. Sedangkan orang tuanya setiap hari bekerja.
Kiki. Bungsu dari empat bersaudara. Walaupun Kiki sedikit berbeda, kesemua kakak-kakaknya sangat menyayanginya. Pertumbuhan Kiki memang tidak sama dengan pertumbuhan anak seusianya. Lambat. Hampir genap dua tahun, Kiki masih tampak seperti usia setahun. Ia mengalami down syndrome sejak lahir. Maka Ia dilahirkan lebih awal dari perkiraan dan diharuskan melalui operasi sesar. Walaupun begitu, Kiki merupakan anugerah terindah di tengah keluarganya. Tidak heran kalau perhatian dan kasih sayang yang diberikan untuk Kiki amat tinggi. Bahkan mamanya yang seorang wanita karir, rela untuk berhenti bekerja sementara demi Kiki.
Waktu demi waktu, orang tuanya berusaha yang terbaik untuk Kiki. Kesembuhannya menjadi prioritas utama. Kiki sering sakit. Dokter menyatakan bahwa kondisi paru-parunya dipenuhi oleh lendir, akibatnya Ia selalu kesulitan untuk bernafas. Kadang Ia juga diharuskan rawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif. Tubuh mungilnya sudah kenal benar dengan tabung oksigen untuk membantunya bernafas melalui selang-selang kecil.
Segala cara pengobatan dilakukan, dimulai dari perawatan medis dan pengobatan alternatif hingga pengobatan tradisional. Namun tetap kondisi Kiki belum sepenuhnya stabil. Kasihan Kiki. Bocah itu harus menahan sakit, menangis sendu, mengeluh, tetapi tidak dimengerti oleh para orang dewasa. Mata beningnya seakan mengatakan bahwa Ia tidak mampu lagi bertahan. Sungguh! Aku tidak tega melihat anak kecil dengan kondisi seperti itu.



Asha menyambut riang kepulangan Mamanya dari kantor. Setelah Kiki agak membaik, Mamanya kembali bekerja beberapa bulan lalu. Kemudian Asha duduk di sofa ruang televisi. Mama yang melihat mainan Asha berantakan, menegur Asha pelan.
“Sayang, mainannya berantakan sekali. Kok Asha belum rapikan? Tumben.. Oh iya, mainan yang Mama belikan kemarin dimana?”
“Disitu, dilempar sama adek Kiki…” jawabnya sembari menunjuk bawah sofa yang diduduki Mamanya.
“Nanti aja Asha beresinnya. Soalnya adek Kiki masih mau main, Ma..” sambung Asha lagi.
Mamanya tertegun mendengar perkataan Asha, begitu juga kedua kakaknya dan Mbak Siti yang tidak berada jauh dari ruang televisi. Kemudian Mama mencium Asha dan beranjak ke dalam kamar. Menangis. Lagi.



Seminggu kemudian. Asha sedang berbaring di kamar tidur, tetapi mata bulatnya masih terbuka lebar. Ia ditemani oleh mamanya. Asha mendadak lemas. Ia hanya diam saja setelah pulang dari rumah sakit. Suhu badannya meninggi. Mama dan Papanya kebingungan. Padahal sore tadi Ia sama sekali tidak kelihatan sakit, bahkan masih sempat bermain denganku. Dokter menyatakan bahwa Asha tidak sakit. Mungkin Ia hanya kangen dengan adiknya, KIki. Sejak Kiki tidak ada di rumah, kadang Asha mendadak demam tinggi. Mungkin saja karena dirinya begitu dekat dengan Kiki. Hubungan diantara keduanya memang begitu erat. Kemudian, Asha bertanya pada Mama.
“Ma, Asha pengen liat adek Kiki. Kita jemput yuk, Ma..” ajakan yang sama diajukannya lagi, berulang-ulang. Terutama bila Kiki tidak ada di rumah untuk dirawat di rumah sakit.
Kali ini mamanya terdiam. Melamun. Pikirannya sibuk mencari jawaban yang tepat untuk Asha. Lalu, Asha berkata lagi.
“Tadi sore Asha main sama tante, Ma.” Mendengar pernyataan Asha, mamanya langsung bertanya heran.
“Tante?! Tante siapa, nak?!” Mamanya ingin tahu.
“Asha nggak tahu namanya. Tapi tante itu rumahnya dibelakang.” Jawab Asha.
“Belakang mana?!” Mamanya menyadari kalau belakang rumahnya hanyalah beberapa kebun yang ditanami pohon pepaya dan pisang. Namun kemudian, berpikiran bahwa mungkin yang dimaksud Asha adalah komplek perumahan yang berada di belakang rumah.
“Tante itu cantik deh, Ma. Pakai baju putih. Bagus!” kata Asha lagi.
“Ooh.. Ya sudah sayang. Sekarang Asha bobo dulu ya. Besok pagi kita lihat adek Kiki.”
Asha mengangguk pelan. Kemudian Ia menutup matanya. Sedangkan mamanya, meneruskan lamunan sembari membelai rambut Asha. Tak sengaja air mata pun mengalir.



Keesokannya mama Asha bertanya pada Mbak Siti tentang “tante” yang dibicarakan Asha tadi malam. Namun, Mbak Siti tidak tahu dan tidak pernah melihat. Seluruh anggota di rumah juga ikut ditanya, kedua kakak Asha dan papanya. Tetapi jawabannya sama dengan Mbak Siti. Mamanya semakin penasaran dan menceritakan pada sanak keluarga yang sedang berkunjung ke rumah pagi itu.
Sebelum berangkat menengok putra bungsunya, Kiki. Papa dan Mama menyiapkan segala peralatan yang dibawa. Tidak lupa Mama membawa selendang yang biasa menjadi hiasan di lehernya, kini dikenakan dikepalanya.
Tampak wajah Asha bahagia. Ia antusias sekali berjalan kedalam mobil dan membawa soft toy berbentuk mobil-mobilan kepunyaan Kiki.
Sampai di tempat tujuan, Asha langsung meminta mamanya untuk membeli bunga. “Biar tempat tidurnya adek Kiki bagus, Ma. Harum.” ujar Asha. Mamanya mengangguk tanda setuju pada Asha. Kemudian mereka segera menuju tempat Kiki.
Banyak orang memenuhi tempat ini. Ada yang khusu berdoa, ada yang hanya berdiam diri, ada pula yang menangis kuat. Melihat situasi sekeliling, Mama Asha kembali menangis hingga tiba di tempat Kiki.
Sekeluarga itu kemudian terdiam. Mereka bersamaan menatap makam kecil yang dihiasi nisan bertuliskan nama “Kiki Barata”. Ya! Ini tempat tidur yang dimaksud oleh Asha. Tempat tidur mungil Kiki untuk selamanya. Tepat seratus hari lalu Kiki telah tiada meninggalkan keluarga yang dicintainya.
Mamanya membersihkan daun-daun kering yang berjatuhan di atas rumput hijau makam Kiki. Kemudian mereka berdoa bersama. Sedangkan Asha sibuk menebarkan bunga-bunga penuh warna diatas makam.
Kemudian Asha melihatku yang sedang berdiri sendirian di ujung jalan setapak, dan memanggil “Tante!.. Tante Annora!”. Mereka yang sedang berdoa dan terkejut mendengar teriakan Asha, bertanya-tanya.
“Tante Annora?! siapa Asha?”, tanya Mama penasaran.
“Itu Ma, namanya tante Annora.” jawab Asha spontan sembari menunjuk ke arahku.
“Siapa sih dek’?! yang mana?...”, pertanyaan demi pertanyaan lain juga diajukan oleh Papanya dan kakak-kakaknya.
“Nggak ada siapa-siapa disana kok.” kata mamanya yakin.
Tetapi Asha tetap terus menunjuk ke arahku dan memanggil. Mereka sekeluarga pun yakin dan menyadari bahwa memang tidak ada satu orang pun yang berdiri di ujung jalan setapak itu. Tidak lama kemudian, mereka berlalu dan kembali pulang.
Asha yang biasanya sebelum pulang bertanya “Mama, kok adek Kiki ditinggal sendirian? Kasihan Ma..” Kini Asha tidak lagi bertanya demikian. Tetapi ketika Mamanya mengajak pulang, dirinya berkata polos “Sekarang Adek Kiki udah nggak sendirian lagi, karena ditemenin sama tante Annora..”
Bocah cantik itu pun berlalu mengikuti Mamanya dan bergandengan tangan. Saat itu pula Ia melambaikan tangan ke arahku. Sang bidadari yang tak terlihat oleh mata manusia bernama Annora. Hanya mata anak-anak kecil tanpa dosa yang dapat melihatku melalui hati sucinya.


Untuk sepupu saya yang telah berjuang hidup selama dua puluh satu bulan..

Tentang Penulis
Nama lengkap Devi Nurvitriyani Hady, biasa dipanggil hanya “Iti”. Lahir di Jakarta, 16 September 1982. Saat ini telah menetap di Canberra, Australia, bersama suami dan putranya bernama Muhammad Renzo Abrar (1 tahun). Selain profesinya sebagai ibu rumah tangga, juga merupakan seorang penulis. Karya-karyanya telah dipublikasikan oleh beberapa media di Indonesia dan Australia. Diantaranya artikel wisata Canberra saat dirinya beberapa kali menjadi kontributor majalah EVE. Jauh sebelum menulis artikel di media, dirinya pernah menerbitkan novel perdana “Spring Of Love” pada tahun 2005. Kemudian dikenal dengan nama pena DE VEHA. Dalam waktu dekat artikel wisatanya pun akan tayang lagi di majalah EVE dan cerpen keroyokannya yang berjudul “Married Mendadak”.
Hobi menulisnya ini dimulai sejak sekolah dasar dan sering mengikuti perlombaan menulis sampai tingkat internasional. Pernah menjadi finalis lomba puisi sedunia “International Open Poetry Contest” pada tahun 2002 di Washington DC, USA, dan terpilih sebagai special participant. Sekarang dirinya masih sibuk menulis novel berikutnya, beberapa undangan menulis cerpen, dan artikel di media. Impian selanjutnya adalah menerbitkan
buku dalam bahasa Inggris. Kunjungi website: www.deveha.multiply.com


Ucapan terima kasih WOL
Ucapan terima kasih kepada penulis De Veha yang telah menyumbangkan cerpen Annora ini dan juga yang telah memberi kesempatan kepada WOL e-Newsletter edisi ketiga untuk dapat memuatnya dan mempublikasikan terlebih dahulu sebelum naik cetak dan diterbitkan di toko buku. Sebagaimana harapan penulis, WOL tentunya juga mengharapkan keberhasilan penulis dimasa mendatang.

Untuk rekan-rekan WOL yang ingin mengenal penulis lebih dekat, silakan mengunjungi link http://deveha.multiply.com/