CERPEN

RUMAH KERTAS

Oleh Widi Frost - (Almont, MI)

 


Waktu remaja, ibuku memiliki seorang pramu wisma bernama Mbak En. Orangnya kecil tetapi gesit serta bersemangat, tak pernah kami melihat wajahnya tanpa senyuman. Mbak En memiliki seorang putri yang berusia sekitar 5 tahunan. Nama aslinya Nur tetapi kami memanggilnya Cilik karena bocah itu menggemaskan.

Kebiasaan jelek dari Cilik adalah nemplok sama ibunya kemana pun pergi. Caranya Mbak En menyelempangkan selendang gendongan supaya Cilik bisa bersandar pada punggungnya, alias gendong belakang atau piggy Back. Naah selendang membuat Mbak En bebas tangannya sehingga ia bisa melakukan pekerjaannya seperti mencuci pakaian atau pun cuci piring.

Miris melihat Mbak En yang perawakannya memang kecil, ibu berkata padaku: "ajaklah si Cilik bermain, supaya Mbak En tidak kecapean."

Maka aku pun mengajak Cilik menggambar, lalu timbul suatu ide dalam pikiranku, yaitu membuat rumah kertas. Rumahnya tanpa atap, kusambung potongan segi panjang kertas menjadi dinding-dindingnya, lalu kupotong juga jendela dan pintu, sedikit kuwarnai bingkai pintu dan jendelanya, kubuatkan juga tempat tidur kertas, bangku, meja, dsb. Saat aku bekerja si Cilik memperhatikan dengan mata berbinar. Setelah rumah itu selesai, kubuatkan juga orang-orangan dari kertas dengan baju kertas yang bisa dg mudah kita ganti-ganti. Kuciptakan baju-baju yang cukup bagus sesuai dengan imajinasiku. Saat kulirik raut si Cilik, ia tampak terpesona dan kagum sekali.


Setelah semuanya selesai, kami pun asyik bermain. Terdengar gelak tawa kami saat orang-orangan kertas memasuki tiap ruangan. Pulangnya Cilik menangis tak mau pergi. Setelah aku bilang bahwa dia boleh membawa pulang mainan kertas itu, dia gembira sekali. Maka pulanglah dia hari itu bersama ibunya.

Besoknya mereka datang lagi, si Cilik kontan mencariku sambil menitikkan air mata. Kata Mbak En, rumah-rumahannya hancur tertindih saat mereka tidur. Dapat kubayangkan, rumah mereka hanya terdiri dari satu petak ruang. Kegiatan makan-tidur pun di situ juga, pastinya sempit dan tak ada ruang bermain buat Cilik.

Maka kubujuk dia dan kubuatkan lagi rumah serta isinya yang jauh lebih indah dari kemaren, dengan warna-warna yang lebih meriah. Sekali lagi aku dan Cilik asyik bermain, tenggelam dalam imajinasi kami masing-masing.

Bertahun-tahun berlalu, Mbak En tidak lagi bekerja pada ibuku. Cilik pun tumbuh remaja. Suatu hari ia mampir ke rumah orang tuaku bertepatan saat ibuku meninggal dunia. Dari semua teman dan saudara, hanya kehadiran Ciliklah yang kurasa istimewa. Biarpun ia berkeyakinan beda denganku, dengan sabar dan leluasa ia duduk di sebelahku sepanjang kebaktian dan sembahyang. Ia menempel pada diriku seolah amat mencemaskanku. Tak kuragukan sedikitpun bahwa ia memang datang untuk menghiburku.

Berapa tahun sudah terlewatkan sejak kubuatkan rumah kertas untuknya? Berapa ratus cerita telah kita tuai di jalan yang terpisah sama sekali, sejak kita asyik tenggelam dalam imajinasi rumah kertas? Jauh sekali perjalanan yang telah kita tempuh pada jalur berbeda. Tetapi rumah kertas tersebut masih dapat mempersatukan kita sampai kepada hari itu. Aku tersenyum mengenangnya, seorang bocah dan sebuah rumah kertas.

Sesungguhnyalah kehidupan manusia sama seperti rumah kertas. Begitu cepat berlalunya hingga kita cenderung mencemaskan usia yang terus bertambah. Sekarang kita ada, besok tiada. Demikian fananya kita.

Namun, bukan berapa panjangnya usia yang membuat hidup kita berarti, bukan seberapa banyak harta yang berhasil kita timbun yang membuat kita dikenang dan dicintai. Akan tetapi bagaimana cara kita menikmati hidup dan membaginya kepada orang lain.


Seperti halnya membangun rumah kertas demikianlah kita membangun kehidupan. Terserah kepada kita, apakah kita mau membuat rumah kertas yang menyenangkan, mengisi setiap ruangnya dengan tawa bahagia, memberi warna-warna yg indah serta mengajak orang lain untuk ikut bergembira di dalamnya? Ataukah mewarnainya menjadi kelabu lalu mengisi ruangnya dengan kecemasan, rasa cemburu dan prasangka serta kebencian?

Nikmatilah setiap menit kehidupan kita, karena kita tak pernah tahu akan hari esok. Sekecil apa pun, perbuatlah yang terbaik bagi orang lain pada hari ini, karena mungkin hari esok tak pernah datang.

 

Tentang Penulis: Widi Frost adalah anggota WOL yang tinggal di Almont, MI. Tulis menulis adalah hobby dari Widi. Dan hasil karya karya tulisannya bisa di lihat di Blognya: http://themermaids.multiply.com/. Kami pengurus WOL sangat berterima kasih pada Widi yang bersedia untuk berbagi cerpen ini kepada sahabat sahabat di  WOL ini.

 

Foto Rumah Kertas: Koleksi Pribadi dari Lina Cantwell, Rumah kertas di buat Nikyta Cantwell, Ohio, USA.