Waktu
remaja, ibuku memiliki seorang pramu wisma bernama Mbak En. Orangnya
kecil tetapi gesit serta bersemangat, tak pernah kami melihat wajahnya
tanpa senyuman. Mbak En memiliki seorang putri yang berusia sekitar 5
tahunan. Nama aslinya Nur tetapi kami memanggilnya Cilik karena bocah
itu menggemaskan.
Kebiasaan jelek dari Cilik adalah nemplok sama ibunya kemana pun pergi.
Caranya Mbak En menyelempangkan selendang gendongan supaya Cilik bisa
bersandar pada punggungnya, alias gendong belakang atau piggy Back. Naah
selendang membuat Mbak En bebas tangannya sehingga ia bisa melakukan
pekerjaannya seperti mencuci pakaian atau pun cuci piring.
Miris melihat Mbak En yang perawakannya memang kecil, ibu berkata
padaku: "ajaklah si Cilik bermain, supaya Mbak En tidak kecapean."
Maka aku pun mengajak Cilik menggambar, lalu timbul suatu ide dalam
pikiranku, yaitu membuat rumah kertas. Rumahnya tanpa atap, kusambung
potongan segi panjang kertas menjadi dinding-dindingnya, lalu kupotong
juga jendela dan pintu, sedikit kuwarnai bingkai pintu dan jendelanya,
kubuatkan juga tempat tidur kertas, bangku, meja, dsb. Saat aku bekerja
si Cilik memperhatikan dengan mata berbinar. Setelah rumah itu selesai,
kubuatkan juga orang-orangan dari kertas dengan baju kertas yang bisa dg
mudah kita ganti-ganti. Kuciptakan baju-baju yang cukup bagus sesuai
dengan imajinasiku. Saat kulirik raut si Cilik, ia tampak terpesona dan
kagum sekali.
Setelah semuanya selesai, kami pun asyik bermain. Terdengar gelak tawa
kami saat orang-orangan kertas memasuki tiap ruangan. Pulangnya Cilik
menangis tak mau pergi. Setelah aku bilang bahwa dia boleh membawa
pulang mainan kertas itu, dia gembira sekali. Maka pulanglah dia hari
itu bersama ibunya.
Besoknya mereka datang lagi, si Cilik kontan mencariku sambil menitikkan
air mata. Kata Mbak En, rumah-rumahannya hancur tertindih saat mereka
tidur. Dapat kubayangkan, rumah mereka hanya terdiri dari satu petak
ruang. Kegiatan makan-tidur pun di situ juga, pastinya sempit dan tak
ada ruang bermain buat Cilik.
Maka kubujuk dia dan kubuatkan lagi rumah serta isinya yang jauh lebih
indah dari kemaren, dengan warna-warna yang lebih meriah. Sekali lagi
aku dan Cilik asyik bermain, tenggelam dalam imajinasi kami
masing-masing.
Bertahun-tahun berlalu, Mbak En tidak lagi bekerja pada ibuku. Cilik pun
tumbuh remaja. Suatu hari ia mampir ke rumah orang tuaku bertepatan saat
ibuku meninggal dunia. Dari semua teman dan saudara, hanya kehadiran
Ciliklah yang kurasa istimewa. Biarpun ia berkeyakinan beda denganku,
dengan sabar dan leluasa ia duduk di sebelahku sepanjang kebaktian dan
sembahyang. Ia menempel pada diriku seolah amat mencemaskanku. Tak
kuragukan sedikitpun bahwa ia memang datang untuk menghiburku.
Berapa tahun sudah terlewatkan sejak kubuatkan rumah kertas untuknya?
Berapa ratus cerita telah kita tuai di jalan yang terpisah sama sekali,
sejak kita asyik tenggelam dalam imajinasi rumah kertas? Jauh sekali
perjalanan yang telah kita tempuh pada jalur berbeda. Tetapi rumah
kertas tersebut masih dapat mempersatukan kita sampai kepada hari itu.
Aku tersenyum mengenangnya, seorang bocah dan sebuah rumah kertas.
Sesungguhnyalah kehidupan manusia sama seperti rumah kertas. Begitu
cepat berlalunya hingga kita cenderung mencemaskan usia yang terus
bertambah. Sekarang kita ada, besok tiada. Demikian fananya kita.
Namun, bukan berapa panjangnya usia yang membuat hidup kita berarti,
bukan seberapa banyak harta yang berhasil kita timbun yang membuat kita
dikenang dan dicintai. Akan tetapi bagaimana cara kita menikmati hidup
dan membaginya kepada orang lain.
Seperti halnya membangun rumah kertas demikianlah kita membangun
kehidupan. Terserah kepada kita, apakah kita mau membuat rumah kertas
yang menyenangkan, mengisi setiap ruangnya dengan tawa bahagia, memberi
warna-warna yg indah serta mengajak orang lain untuk ikut bergembira di
dalamnya? Ataukah mewarnainya menjadi kelabu lalu mengisi ruangnya
dengan kecemasan, rasa cemburu dan prasangka serta kebencian?
Nikmatilah setiap menit kehidupan kita, karena kita tak pernah tahu akan
hari esok. Sekecil apa pun, perbuatlah yang terbaik bagi orang lain pada
hari ini, karena mungkin hari esok tak pernah datang.
Tentang Penulis: Widi Frost adalah
anggota WOL yang tinggal di Almont, MI. Tulis menulis adalah hobby dari
Widi. Dan hasil karya karya tulisannya bisa di lihat di Blognya:
http://themermaids.multiply.com/. Kami pengurus WOL sangat berterima kasih pada
Widi yang bersedia untuk berbagi cerpen ini kepada sahabat sahabat di
WOL ini.
Foto Rumah Kertas: Koleksi Pribadi dari
Lina Cantwell, Rumah kertas di buat Nikyta Cantwell, Ohio,
USA.