Karena Aku Orang Indonesia
Santi Dharmaputra, SH, LLM
Munich, Jerman
Seorang
teman iseng bertanya kepada Joseph, sulung saya yg berusia hampir lima tahun, "Kamu
kok lancar bener bahasa Indonesianya?", yang langsung dijawab, "Aku kan orang
Indonesia, tante". Jawaban yang sederhana dan tepat. Yang saya alami, jika
sedang diantara sesama orang kita, baik di Indonesia maupun di luar negeri,
sering tercetus rasa heran dari mereka ketika mendengar saya dan anak-anak (bungsu
berusia 14 bulan) bercakap menggunakan bahasa Indonesia. Nampaknya sebagian
besar masyarakat kita beranggapan bahwa lebih normal jika keluarga Indonesia
yang bermukin di luar negeri ataupun yang menikah dengan non-WNI untuk tidak
menurunkan bahasa Indonesia ke anak. Memang suami adalah warga negara Prancis,
dan sejauh ini keluarga kami selalu tinggal di negara2 selain Indonesia, tapi
hal-hal tersebut bukanlah halangan untuk tetap berbicara bahasa Indonesia dengan
anak. Bahasa Indonesia bagi saya adalah bahasa ibu, bahasa yang dipergunakan
orang tua untuk membesarkan saya, sehingga lebih nyaman rasanya bercanda dan
mendidik anak dengan bahasa yang sangat dekat dengan saya. Di samping itu,
walaupun terlihat ada campuran dengan etnik lain, anak-anak saya tetap berhidung
dan bermata Indonesia dan makanan kegemaran mereka adalah martabak dan empal
goreng. Juga aki, oma, sepupu, oom dan tante mereka semuanya orang Indonesia.
Tanpa bisa berbahasa Indonesia, tali silaturahmi antara anak-anak saya dengn
sanak saudara di tanah air bisa macet tersendat-sendat.
Halangan yang beraneka ragam dirasakan oleh orang tua
Indonesia yang bermukim di luar negeri maupun yang menikah antar bangsa untuk
menurunkan bahasa Indonesia. Yang sering terdengar adalah pernyataan khawatir
orang tua bahwa anak akan menjadi bingung dan tidak akan bisa berbicara dengan
sempurna jika tumbuh dengan lebih dari satu bahasa. Ini adalah tidak benar. Para
ahli bahasa sudah melakukan riset berpuluh tahun mengenai hal ini terhadap
negara-negara yang masyarakatnya menguasai lebih dari satu bahasa di antaranya
Kanada, Belgia, Swiss dan Finlandia, di mana hasil riset tidak menemukan adanya
kebingungan maupun kesulitan berbicara di antara warga negara-negara tersebut.
Riset justru menemukan bahwa penguasaan multi bahasa sejak dini memberikan
banyak keuntungan, di antaranya cara berpikir menjadi lebih luas karena memiliki
kemampuan untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang berbeda. Mengapa?
Karena penguasaan bahasa berarti juga pengenalan lebih dekat dgn budaya dan adat
bahasa yang dikuasai, sehingga pengetahuan dan daya pikir menjadi lebih kaya.
Melihat ke dalam negeri kita sendiri, banyak di antara
kita yang lahir dari pasangan orang tua berbeda suku di mana ayah dan ibu
bercakap dengan anak dalam bahasa daerah masing-masing. Apakah di antara kita
ada yang mengalami kesulitan berbicara karena dibesarkan oleh ibu yang berbicara
Sunda dan bapak yang berbicara Padang? Justru sebaliknya, anak yang dibesarkan
dengan bahasa daerah orang tua, akan fasih berbicara bahasa2 tersebut dan
menjadi lebih diterima di lingkungan manapun karena melalui penguasaan bahasa,
dia jadi lebih mengerti kebiasaan suatu suku dan membuatnya lebih luwes dalam
pergaulan.
Kalau begitu, kapan waktu yang tepat untuk mulai
mengajarkan bahasa Indonesia? Sedini mungkin, dengan menggunakan cara yang sama
seperti saat dulu orang tua membesarkan kita: berbicara, menyanyi, membacakan
buku, bermain, menonton bersama dan lain sebagainya. Sangatlah indah, alami dan
menyentuh jika kasih sayang orang tua diucapkan dalam bahasa yang dikuasai
sepenuhnya.
Tentang Penulis: Santi Dharmaputra, SH, LLM,
adalah anggota WOL
di Munich, Jerman yang
mempunyai hobi tulis menulis. Kami
pengurus
WOL sangat berterima kasih kepada Santi yang telah
bersedia untuk berbagi artikel ini kepada
sahabat-sahabat WOL.. Untuk lebih mengenal Santi bisa
mengunjungi website nya di
http://trilingual.livejournal.com/profile
Sumber Pemikiran Tulisan:
1.. Hauwaert, Suzanne Barron. 2003. "Trilingualism, a
Study of Children Growing Up with Three Languages" dalam
Espinosa, Tracey-Tokuhama.2003. "The Multilingual Mind:
Issues Discussed By, For, and About People Living with
Many Languages". Praeger Publishers.
2.. Hinton, Leanne. 1999. "Involuntary Language Loss
Among Immigrants: Asian-American Linguistic
Autobiographies."
http://www.cal.org/resources/digest/involuntary.html.
3.. Kompas. 2007. "Indonesia Hadapi Ancaman Kepunahan
Bahasa Daerah".
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/23/humaniora/3552295.htm.
4. Muslich, Masnur. 2006. "Bahasa Indonesia dan Era
Globalisasi".
http://re-searchengines.com/1006masnur.html.
5. Romano, Dugan. 2001. "Intercultural Marriage:
Promises and Pitfalls". Nicholas Brealey
Publishing/Intercultural Press.
6. Santos, Fernando. 2007. "Students Search for the
Words to Go With Their Cultural Pride".
The New York Times.
http://www.nytimes.com/2007/05/07/nyregion/07heritage.html?_r=2&oref=slogin&oref=slogin.7.
Sneddon, James. 2003. "The Indonesian Language, its
History and Role in Modern Society". UNSW Pres