

Pernahkah terpikirkan secara pasti
tentang siapakah belahan jiwa kita sesungguhnya?
sosok seperti apa yang kelak menjadi teman sehidup semati kita
dalam mengarungi lautan kehidupan yang luas dengan banyak cobaan yang
datang bersamanya? Tak pernah ada yang bisa memprediksi
lalu lintas takdir yang terkadang berjalan tak sesuai peta
kehidupan anak manusia, meski telah terancang sesempurna mungkin.
Hal itu yang dirasakan dan di alami
Miranda. Bertahun tahun ia bergelut dengan segala dilema dan cintanya
bersama Aksa
yang berbeda kasta dengannya. Bertahun tahun, ia berusaha
meyakinkan hatinya bahwa Aksa lah belahan jiwa bagi sebagian hatinya.
Tapi ternyata takdir tak sepaham dengan keyakinannya. Ditambah keluarga
Aksa yang memang tak pernah memberi restu pada keberadaannya.
Lalu Miranda pun mencoba menerima sebentuk jiwa dan
nafas cinta yang ternyata senada dengan mimpi dan harapannya.
Kesungguhan cinta itu ditawarkan Mayong dan diterima dengan tulus oleh
Miranda. Aksa pun terluka namun tak pernah bisa pasrah akan takdir yang
memisahkannya dengan Miranda. Hingga kemudian Keisha terlahir dengan
anugerah autisme sebagai bentuk cobaan cinta antara Mayong dan Miranda.
Namun kehadiran Keisha yang menjadi penghuni tetap “DUNIA KRISTAL”
justru memberi warna berbeda bagi hubungan special yang bisa terjalin
indah dengan Mayong – Sang Ayah, lalu memberi kekuatan batin tersendiri
bagi Miranda. Lalu adakah cela bagi Aksa untuk kembali merebut Miranda?
Keinginan memiliki yang sangat tinggi dan cinta berlebih terkadang
selalu menghadirkan kenekatan yang selalu menantang takdir yang telah
digariskan oleh Nya. Mampu kah Aksa melepas Mayong dan merengkuh Miranda
dan Keisha? Dan cukup sanggupkah Aksa menjadi pahlawan yang membawa
Keisha dari dunia Autismenya?.
Novel tipis namun sarat
makna ini, memang telah menjadi ciri khas penulisnya yang lebih
mendahulukan isi dan hikmah bagi setiap tulisannya. Alur cerita yang
mengharu biru di awal, memberi semangat di pertengahan dan pencerahan di
bagian akhir telah menjad