Artikel:: Keuangan
WANITA DAN UANG: PERLUKAH KARTU KREDIT?
Oleh Dra Rina Dewi Lina MM, CFP®—Jakarta, Indonesia
Anggota WOL di Mailing List, Facebook dan Multiply



Akhir tahun sudah di penghujung bulan, tidaklah lengkap rasanya jika anda melangkah ke tahun berikutnya tanpa suatu rencana dan target untuk meningkatkan hidup anda di tahun 2009. Anda perlu mengetahui posisi anda dan seberapa jauh anda merealisasikan rencana-rencana yang telah anda tetapkan; kegiatan analisis ini dikenal sebagai “New Year’s Resolution” dan lebih tepatnya “2008 New Year’s Resolution”. Inti dari "New Year’s Resolution" ini adalah menganalisis realisasi dari rencana yang telah ditetapkan sepanjang tahun sebelumnya dan selanjutnya mencari jalan keluar untuk mengatasi dan meningkatkannya dalam bentuk strategi, langkah-langkah dan juga sasaran-sasaran jangka pendek yang realistis dan mudah dilaksanakan. Analisis ini bisa juga dilakukan dalam beberapa segi kehidupan seperti psikologis, sosial, religius dan juga finansil.

Namun mengingat pentingnya segi finansil dalam keberhasilan anda merealisasikan rencana-rencana tersebut, maka anda perlu menyediakan waktu yang lebih sungguh-sungguh untuk memastikan bahwa anda dapat meningkatkan ataupun memperbaiki kemampuan manajemen keuangan anda di tahun 2009. Melalui "Resolusi Keuangan tahun 2008" anda menetapkan tujuan (goal) untuk 12 bulan ke depan dalam ‘bagaimana mengelola keuangan anda secara benar’. Termasuk didalamnya pertimbangan dalam penggunaan Kartu Kredit agar anda dapat memegang kendali kehidupan anda lebih baik. Dan yang terpenting adalah terhindar dari beban hutang yang sebetulnya tidak perlu terjadi.

Anda tidak perlu membuat rencana besar, tapi buatlah rencana dan langkah-langkah yang mudah dilaksanakan. Deskripsi berikut saya harapkan dapat membantu anda dalam memperoleh gambaran tentang bagaimana mengelola keuangan anda mengelalui penggunaan Kartu Kredit dimaksud:

Kira-kira 2 tahun lalu, saya mempunyai 8 kartu kredit; setelah membaca beberapa artikel tentang keuangan, 6 dari kartu kredit tersebut saya berhentikan. Mengapa saya lakukan? Ternyata, artikel tersebut mampu meyakinkan saya dalam beberapa hal, Pertama, sebetulnya saya tidak memerlukan kartu kredit sebanyak itu jika saya mampu mengelola keuangan saya lebih baik. Kedua, Kartu Kredit memberikan sinyal yang salah tentang “kemampuan keuangan” saya sebenarnya, karena saya tidak melihat dan memegang uang secara fisik maka saya hidup melampui kemampuan keuangan saya. Ketiga, uang ‘fee’ bulanan dari kedelapan kartu kredit tersebut sebenarnya dapat saya simpan di tabungan sebagai ‘uang jaga-jaga’.

Ambil saja contoh dengan limit setiap kartu kredit sebesar Rp 15.000.000,- maka saya mempunyai potensi berhutang sebesar Rp 90.000.000,-. Bayangkan bila dari satu kartu kredit membershipnya sebesar Rp 300.000,- untuk ‘gold’ maka setiap tahunnya saya mengeluarkan uang sebesar Rp 1.800.000,-. Beruntung karena saya selalu melakukan pembayaran “full payment”, sehingga tidak terjerat hutang dari kartu kredit yang biasanya mengenakan 3% per bulan untuk minimum payment, yang artinya 42% per bulan. Wow luar biasa, oleh karena itu sering terjadi sebuah keluarga disatroni oleh “debt collector” .

Setiap awal bulan saya selalu belanja keperluan bulanan di supermarket. Pilihan belanja di supermarket ataupun hypermarket adalah untuk efisiensi waktu, karena semua barang tersedia di satu tempat, disamping sebagai acara belanja bersama keluarga. Karena belanja untuk keperluan bulanan cukup banyak saya melakukan pembayaran dengan kartu kredit, rata-rata belanja bulanan saya Rp 1.200.000,- - Rp 1.500.000,-.

Walaupun saya bukan orang yang boros, namun dengan kemudahan yang ditawarkan oleh Kartu Kredit, seperti “tinggal menggesek” tanpa harus mengeluarkan uang tunai kemungkinan untuk “boros” dan membeli barang-barang yang tidak perlu pun semakin tinggi, apalagi sebagai wanita yang kadang sering membeli barang karena “lapar mata”.

Hal lainnya lagi yang tidak saya sukai adalah, hampir 35% dari penghasilan saya ditransfer untuk pembayaran kartu kredit disamping digunakan juga untuk keperluan sehari-hari yang memerlukan uang tunai. Dengan cara ini pada akhir bulan saldo saya hanya mengendap dibawah Rp 500.000,-. Ini terjadi selama bertahun-tahun. Jadi walaupun saya telah menganggarkan biaya kebutuhan sehari-hari secara terpisah dalam rekening tersendiri, namun bila ada keperluan diluar rencana saya tetap harus mengambil uang dari rekening lainnya. Artinya, uang yang telah saya anggarkan tidak cukup. Pertanyaan saya tentunya, “kenapa?”

Setelah membaca artikel dan buku-buku tentang keuangan, saya terinspirasi dengan kalimat yang sering disebutkan yaitu “berusahalah melunasi hutang kartu kredit anda dalam 3 bulan, setelah itu gunting kartu kredit anda”. Dari nasehat itulah kemudian saya melakukan strategi pengeluaran keuangan dengan cara :

1. Belanja bulanan saya order kepada “bibi’ yang membantu saya dirumah. Kebetulan bibi yang membantu di rumah sudah bekerja hampir 9 tahun, saya sangat percaya kepadanya. Saya minta dia mencatat barang-barang yang sudah habis lalu saya minta dia membelinya dari mini market, saya berikan uang sebesar Rp 350.000,-. Ajaib dengan uang itu ‘bibi’ sudah bisa membeli segala keperluan bulanan, minyak goreng 5 kg, sabun cuci pakaian, sabun cuci piring, pewangi, pembasmi nyamuk (aerosol), gula pasir 5 kg, deodoran dan kepeluan lainnya untuk keperluan sebulan bahkan makanan kecil untuk anak-anak. Yang belum terpenuhi adalah sabun cuci untuk mesin cuci dan beras, dan susu 15 liter, kira-kira seharga Rp 450.000,-. (lho, jadi waktu belanja sendiri barang apa saja yang dibeli, kok sepertinya seluruh barang yang dibeli tidak diperlukan?).

2. Segala pembelanjaan diluar belanja bulanan saya lakukan dengan pembayaran tunai. Berat rasanya apalagi dalam 3 bulan pertama, karena pengeluaran 3 bulan ini menjadi dobel; membayar kartu kredit dan belanja secara tunai. Dalam 3 bulan ini saya benar-benar mengencangkan ikat pinggang.

3. Kartu kredit tetap saya gunakan, tapi hanya untuk pembayaran rutin bulanan, seperti listrik, telepon, dan internet.

Keajaiban yang kedua, memasuki bulan keempat rekening saya tersisa rata-rata- Rp 2.000.000,- di akhir bulan. Wow….bukankan ini luar biasa, dan tidak pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya!

Dari cerita di atas saya ingin berbagi tips untuk teman-teman WOL :

1. Hindari belanja dengan menggunakan kartu kredit;
• Untuk Kebutuhan sehari-hari. Secara psikologis, anda mungkin akan merasa lebih ringan bila membayar dengan kartu kredit dibandingkan dengan tunai sebesar Rp 1.500.000,-, tetapi anda harus berdisiplin.
• Untuk Baju, buku, tas, dan sepatu. Pembayaran tunai dapat menghindari pembelian barang-barang yang tidak perlu, seperti baju seharga Rp 600.000,-, karena anda akan merasakan dan melihat langsung “jumlah” uang yang anda bayarkan.
• Untuk Makan atau jajan ke restoran maupun kafe. Mungkin tak akan terasa jika hanya dilakukan sesekali, tapi jika dilakukan seringkali, anda akan merasakan “berat hati” untuk selalu mengeluarkan uang sejumlah tertentu sementara anda bisa memasak sendiri di rumah dengan tentunya harga yang lebih murah.
• Untuk Bensin. Anda tentunya akan berhitung dengan membandingkan antar jumlah yang dibayarkan dengan bensin yang akan anda peroleh.

2. Buatlah daftar kebutuhan sebelum berbelanja dan hindari membeli barang-barang yang tidak tercantum di dalamnya. Yang sering terjadi bila anda pergi ke supermaket untuk membeli 1 barang, namun begitu membayar dikasir, yang dibayar adalah sekeranjang penuh belanjaan. Lebih baik bila keperluannya hanya akan membeli satu barang, belilah barang diluar supermarket atau hypermarket. Barang-barang yang tersedia di supermarket juga tersedia di warung-warung kecil dekat rumah. Secara psikologis, berbelanja di warung biasanya hanya untuk membeli barang kebutuhan pokok yang mendesak.

3. Kartu kredit dapat tetap digunakan bila dalam keadaan mendesak dan tak terduga seperti biaya Rumah Sakit dan obat-obatan. Pada waktu jatuh tempo tetap lakukan pembayaran dengan “full payment”. Gunakan kartu kredit sebagai “penolong” dalam keadaan darurat.

Jika semua tips tersebut anda lakukan maka tanpa terasa dan tanpa disengaja anda sudah melakukan banyak penghematan dan mengikis pengeluaran yang tidak perlu. Dengan berhemat berarti anda menabung untuk masa depan dan saat penting.


Tentang Penulis

Rina Dewi Lina adalah Ahli Perencanaan Keuangan atau ‘Professional Financial Planner’, seorang profesional yang telah bekerja di bidang asuransi selama 10 tahun; dan juga sarat dengan pengalaman manajemen yang diperolehnya dari berbagai perusahaan dan industri. Tingkat profesionalisme dan kredibilitasnya juga didukung oleh latar belakang pendidikan dan sertifikasi yang berkaitan erat dengan profesinya yaitu:
• MM—Magister Management dari Pembinaan dan Pengembangan Manajemen (PPM), alumni tahun 1996
• CFP®—Certified Financial Planner 2008

Gelar CFP® ini memberikan suatu kepercayaan bahwa seseorang yang berhak menyandang gelar ini adalah seorang
Financial Planner yang profesionalismenya telah diakui di seluruh dunia. Seseorang yang telah memenuhi standard profesional, kode etik dan telah menyetujui untuk melakukan tindakan-tindakan yang melekat dengan gelar tersebut dalam hal prinsip-prinsip integritas, obyektif, kompeten, adil, menjaga rahasia, bersikap profesional, dan kesungguhan dalam menangani para kliennya.


Ucapan Terima kasih
WOL mengucapkan terima kasih atas sumbangan artikel keuangan ini yang tentunya sangat membantu rekan-rekan pembaca WOL.
Bagi rekan-rekan WOL yang tertarik membaca artike-artikel Rina, anda dapat membacanya disetiap penerbitan e-Newsletter selanjutnya dengan topik-topik yang akrab dengan kehidupan anda sehari-hari
.

Rekan-rekan yang tertarik untuk berdiskusi lebih jauh dengan Rina Dewi Lina tentang Keuangan ataupun ingin berkenalan lebih jauh, silakan mengunjungi link-link berikut:

http://ninarinaperencanakeuangan.blogspot.com
http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/wanitadanuang.htm
http://www.wanitaonline.com/newsletter/august2008/rina.htm
http://www.portalreksadana.com/node/311