Makna Idul Adha dan Keikhlasan Berkorban
Oleh Ria Jumriati; Jakarta, Indonesia
Moderator Milis, Forum, Multiply dan Editor e-Newsletter
Hidup
adalah sebuah tanjakan ujian yang selalu menuntut keikhlasan untuk
setiap pengorbanan yang kita lakukan. Terutama sebagai wanita, banyak
hal yang harus kita berikan secara tulus tanpa pamrih. Mengandung,
melahirkan dan menyusui buah hati kita lalu mendidik hingga akhirnya
melepas mereka pada satu bentang kehidupan dimana kita sebagai ibu
kandungnya, untuk kesekian kalinya harus merelakan dengan ikhlas
anak-anak kita dimiliki oleh sebuah kehidupan bernama masa depan. Itulah
sebuah pengorbanan yang tak pernah menuntut bayaran apapun. Namun selalu
ada perhitungan yang sangat sistematis dari Tuhan YME atas segala
ketulusan menjalankan semua kewajiban yang diperuntukkan bagi kita
sesuai kodrat yang kita miliki.
Pengorbanan dan keikhlasan nyata terefleksi sempurna pada makna indah
yang terkandung dalam ?Idul Adha?. Sejarah menggores pesan suci mengenai
pengorbanan Nabi Ibrahim A.S dalam menjalankan titah Allah SWT, untuk
menyembelih putra semata wayangnya yaitu Nabi Ismail A.S. Tapi berkat
keteguhan hati dan keikhlasan tulus untuk menjalankan perintah Allah SWT,
maka perintah itu pun dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim A.S. Namun Allah
SWT dengan sifat Maha Pengasih dan Penyayangnya, segera mengganti tubuh
Nabi Ismail dengan seekor domba. Dan selamatlah Nabi Ibrahim dari ujian
atas permintaan berkorban dengan tulus yang datang langsung dari Sang
Khalik.
Seorang sastrawan Muslim, Musthafa Shadiq AI-Rafi'i mengatakan;
"Sesungguhnya kemenangan dalam pertarungan hidup tidaklah diperoleh
dengan harta, kekayaan dan, kesenangan; tapi dari perjuangan keras,
ketegaran dan kesabaran. Bahwa kemajuan manusia tidak dapat
diperjualbelikan atau diberikan secara gratis.Tapi sesuatu yang kita
cabut dengan paksa dari peristiwa-peristiwa kehidupan dengan kekuatan
karakter yang dapat mengalahkan dan tidak dimatikan oleh krisis".
Demikianlah, sedikit refleksi dari makna ketulusan berkorban yang
tercermin dalam peringatan Hari Raya Idul Adha. Bahwa setiap manusia
apapun kodratnya tentu tak lepas dari uji dan coba dalam mengarungi
hidup ini. Terutama kodratnya sebagai wanita, dimana perasaan terkadang
lebih mendominasi setiap pemikiran dan tindakan kita. Dalam banyak
rentang pertalian dan jalinan dengan dengan sesama, baik keluarga, orang
tua, saudara dan sahabat. Selalu ada sedikit kekusutan yang terjadi pada
jalinannya, yang tentu memiliki banyak ragam warna. Akan kah kita
mengorbankannya demi mendahulukan ego dan perasaan kita. Kembali pada
refleksi pengorbanan bermakna indah yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim
A.S. Bahwa apapun bentuk pengorbanan ikhlas yang kita berikan pada
seseorang, entah itu dalam keluarga inti, suami, anak-anak maupun orang
tua, saudara dan sahabat. Sekali lagi, selalu ada perhitungan yang
sistematis dari Sang Khalik bagi setiap hambanya yang ikhlas, tulus dan
rela berkorban bagi terciptanya perdamaian dunia dalam bentuk kecil di
masing-masing kehidupan pribadi setiap individu.