|
Artikel:
Budaya Antar Bangsa
Omiyamairi:
Upacara Pemberkatan Anak
Yang Baru Lahir di Jepang
Oleh Dian Andamari (Wulan)
- Toyota , Jepang
Pengurus Forum WOL
Dalam
budaya Jepang, bayi yang baru lahir secara tradisi akan melalui upacara ritual
Omiyamairi yang bertujuan untuk menolak roh jahat dan untuk meminta berkah
kepada tuhan agar sang bayi senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan.
Omiyamairi juga merupakan kesempatan pertama bagi bayi untuk mengunjungi kuil
setempat. Omiyamairi dilakukan pada ke-31 hari dari kelahiran bayi, namun karena
suatu halangan anakku yang ke-2 baru melaksanakannya pada saat berumur 2 bulan.
Upacara Omiyamairi kali
ini merupakan upacara ke dua di keluarga kami. Omiyamairi dilakukan di Jinja ("jin"
berarti tuhan dan "ja" berarti rumah, pengertian keseluruhanya adalah “rumah
tuhan” atau kuil). Berbeda dengan Otera yang
biasanya digunakan untuk persembahyangan bagi orang meninggal, Jinja digunakan untuk tempat ibadat, pemberkatan perkawinan, dan shogatshu -tradisi
perayaan tahun baru, dilakukan setiap awal tahun untuk meminta kepada yang kuasa
agar tahun yang baru senantiasa dilimpahi kesehatan, keselamatan, rezeki dan
sebagainya.
Pada hari pelaksanaan
Omiyamairi, kami berangkat pagi dengan tujuan pertama pergi ke studio foto
langganan kami yang sudah menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan upacara ini.
Setelah acara foto selesai, kami kemudian pergi ke SANAGE-Jinja yang terletak
kaki gunung Sanage di kota Toyota .
Toyota, adalah kota kecil
tempat kami tinggal dan merupakan kantor pusat dan pabrik mobil Toyota yang
terkenal itu. Kota Toyota dikelilingi oleh gunung-gunung dan bukit-bukit yang
berhutan lebat, bahkan di depan rumah kami, masih mengalir sungai dengan airnya
yang jernih dan sawah-sawah serta ladang di mana burung-burung bangau dan bebek
liar bebas mencari makan di sawah tanpa ada yang mengganggu. Bahkan
kadang-kadang ada beruang liar berkeliaran yang kami ketahui dari mobil
kelurahan yang berkeliling mengingatkan agar kami berhati-hati.
Dalam pelaksanaan
Omiyamairi, sudah merupakan tradisi nenek atau ibu dari pihak ayahlah yang
menggendong sang bayi yang mengenakan kimono khusus untuk upacara Omiyamairi ini.
Orangtua bayi turut ambil bagian pula, yang mengambil tempat duduk dengan urutan
tertentu - suamiku, ayah bayi, duduk bersebelahan dengan ibu kandungnya yang
menggendong bayi sedangkan aku (ibu) dan anakku yang pertama duduk berjajar di
belakang mereka.
Upacara dipimpin oleh
seorang Kannushi (pendeta Jinja) berjalan dengan khidmad - diawali dengan
membungkuk hormat kepada tuhan dan diakhiri dengan menepuk tangan dua kali
-dengan tujuan agar yang kuasa mendengar permohonan kami.
Untuk keperluan upacara
ini, kami menyewa kimono untuk bayi laki-laki kami yang pada kesempatan ini ibu
dari ayah bayi lah yang memilihnya. Alasan kami menyewa kimono untuk bayi
laki-laki kami tersebut selain untuk menghemat biaya karena harganya yang mahal,
kimono ini juga hanya digunakan satu kali oleh sang anak sepanjang hidupnya. Dan
tentunya kami ketahui dari pengalaman upacara Omiyamairi anak pertama kami.
Warna kimono untuk bayi
laki dan perempuan berbeda: untuk bayi perempuan biasanya kimono berwarna merah,
terbuat dari bahan ‘crepe’ bersulam dekorasi yang indah seperti: burung bangau,
kura-kura, pohon pinus atau cemara, bunga seruni dan bunga-bunga lainnya.
Untuk bayi laki-laki kimono terbuat dari habutae - kain sutra tenun polos-
biasanya berwarna hitam bersulam pola-pola seperti tameng, burung dan rajawali.
Setelah upacara selesai,
kami mendapat omamori - jimat pelindung - bagi anak kami. Omamori
juga dapat dimiliki oleh setiap orang; setiap tahun omamori dikembalikan
ke jinja dengan cara dibakar dan diganti dengan yang baru, biasanya pada saat
tahun baru. Walaupun omamori ini diyakini sebagai jimat pelindung, tidak
semua orang memilikinya karena tidak semua orang Jepang percaya akan budaya ini
lagi. Namun adat tradisi di keluarga suamiku masih menganggap omamori
penting, mobilpun diberi omamori dan diberkati. Omamori ini harus
senantiasa bersama dengan kita kemanapun kita pergi. Selain jimat, kami juga
diberi sake dan papan kayu bertuliskan
nama anak kami 'Shunta', yang kemudian dipasang diruang tatami khusus
untuk berdoa - diletakkan di tempat teratas di bawah otokesama (tuhan/Budha )
agar selalu mendapatkan penjagaan dari tuhan setiap kali kami berdoa..
Bagaimana dengan
teman-teman lainnya, apakah ada tradisi khusus untuk memberkati anak yang baru
lagi di tempat kalian tinggal?
Tentang Penulis:
Dian Andamari
atau nama
panggilan kita kenal Wulan adalah pengurus WOL
dibagian Craft (Kerajinan tangan); yang tinggal di Toyota,
Jepang;
Selain kesibukan
sebagai ibu rumah tangga dan membuat kerajinan tangan berupa kalung dan anting-anting;
Wulan ternyata juga suka menulis. Kami Tim Newsletter
mengucapkan terima kasih
kepada Wulan yang telah
bersedia meluangkan waktu memberikan
sumbangan tulisan ini
|