Langkah2 membuat sebuah foto makanan

Oleh Dian Degen; Salzburg, Austria

Anggota WOL - di FB & Multiply

Awal Januari 2009 adalah moment tak terlupakan ketika saya pertama kali melakukan percobaan memotret makanan “Still Life Food” saat pertama mulai bergabung di Group Photography (SLF). Ketidak mengertian pada teknik memotret beserta fungsinya tak menyurutkan niat dan tekad saya untuk mempelajarinya, malah sejak saat itu saya telah langsung jatuh cinta pada Food Photography

Berikut ini saya ingin berbagi dengan teman-teman pecinta food photography mengenai langkah-langkah yang saya gunakan dalam memotret makanan

Studio Setting.

Berhubung rumah kami hanyakamar tidur yang mempunyai jendela besar dan cukup terang untuk dipakai sebagai "studio", yang tentu juga membawa hambatan lain yaitu tidak adanya space untuk meletakkan meja pemotretan.  Akhirnya suami saya membuatkan DIY - Do it Yourself table top yang bisa dilipat dan disimpan di kolong tempat tidur di saat tidak dipakai.

DIY table top

Untuk setting-an seperti gambar di atas, saya letakkan reflektor di sebelah kiri (karena cahaya datang dari sebelah kanan) supaya sinar cukup merata. Posisi ini adalah yang kebanyakan saya pakai, tetapi kadang-kadang saya juga memasang reflektor di sebelah kanan (kiri juga tentunya, jadi 2 reflektor) untuk "menangkap" sinar matahari sore yang datang dan ini memberikan efek lighting yang lain. Sementara ini saya masih mengandalkan natural light dan reflektor saja, walaupun sebetulnya tidak ada salahnya memakai lampu tambahan, cuma seringnya saya males pasang-pasang lampu.


Tripod.

Saya ini tipe orang yang tidak mau repot. Dari awal memotret saya menghindari yang namanya tripod, karena di mata saya waktu itu memasang kamera di tripod adalah hal yang merepotkan.  Tetapi lama-lama penggunaan tripod ini tidak bisa dihindari, karena dengan tripod saya jadi lebih leluasa bermain dengan speed tanpa khawatir foto jadi blur (buram).  Dan ternyata setelah biasa bongkar pasang kamera ke dan dari tripod, hal ini toh tidak terlalu merepotkan seperti yang saya duga sebelumnya. Belakangan suami membuat kemudahan lain dengan membelikan "kaki" untuk tripod, karena kaki ini pakai roda jadi saya tidak perlu mengangkat-angkat tripod lagi jika ingin pindah posisi, cukup digeser-geser saja dan kalau sudah menemukan posisi yang tepat, kaki tripod bisa dikunci supaya tidak bergeser lagi...praktis!

Modus Manual, custom WB.

Pada saat mengerjakan tantangan SLF ke 3 dengan tema "Herbs & Spicy" pertama kalinya saya memotret dengan program manual. Awalnya saya selalu "alergi" dengan semua yang berbau manual di dalam fotografi. Dalam bayangan saya..waduuhh..semua harus ditentukan sendiri, saya harus memulai mandiri..ahh..rasanya belum siap dengan kemampuan fotografi saya waktu itu.  Tetapi percaya deh ternyata langkah yang saya ambil ini tidak salah. Karena dengan program manual saya jadi lebih leluasa "bergerak". Saya dengan mudahnya mengatur F/stop dan speed seperti yang saya inginkan sesuai dengan kondisi cahaya saat itu.

Di saat memotret "Herbs & Spicy" saya juga mengenal yang namanya custom WB. Teman-teman mungkin sering bertanya kenapa kok foto hasil jepretannya agak kebiru-biruan, kekuning-kuningan pokoknya nggak bersih putih, terutama foto dengan BG warna putih. Dari pengalaman saya sendiri itu terletak di WB yang tidak pas.

Saya selalu menggunakan custom WB dalam memotret makanan. Caranya adalah saya memotret selembar kertas putih yang biasa dipakai untuk menge-print, di lokasi tempat saya memotret; dari Menu, saya memilih setting custom WB dan foto tersebut saya pilih sebagai acuan untuk custom WB-nya.

Ke empat foto di bawah ini saya bidik dalam kondisi yang sama dengan BG kertas karton warna putih, hanya WB-nya saja yang berbeda. Bisa dilihat sendiri hasilnya, bahwa custom WB memberikan hasil yang terbaik, dalam hal ini.



F/Stop, Focal Length dan ISO.

Kamera Canon EOS 400D dan lensa EF 24-105mm 1:4 L IS USM adalah yang sekarang saya pakai. Untuk pemotretan dengan bird view seperti foto di bawah ini saya ambil F/stop dengan angka besar, mulai dari F/11 hingga depth of field nya luas, semua objek tertangkap dengan jelas. Sedangkan untuk pengambilan sudut yang lain saya biasanya menggunakan F/stop dengan angka kecil, sekitar F/4 sampai F/6 supaya obyek utama menonjol dan didapatkan DOF—Depth of Field yang cantik.


F/13,1/5 second, 40mm, ISO-100

Berkat pemakaian tripod, saya cukup "hemat" dengan ISO. Sekecil mungkin ISO yang dipakai agar kualitas foto lebih bagus, maksimal saya set di ISO 200.

Untuk focal length saya tidak pernah memakai zoom secara full, karena hal ini juga bisa mengurangi ketajaman foto. Focal length yang biasa saya pakai adalah antara 40 - 80mm. Saya lebih suka mendekatkan kamera ke obyek daripada menggunakan full zoom.

Styling, Props.

Saya selalu merasa sebagai orang yang tidak punya jiwa seni dan tidak kreatif. Tidak pernah terpikirkan bisa men-style makanan untuk difoto. Awalnya saya banyak mengamati foto-foto makanan yang saya sukai baik itu dari internet ataupun majalah. Saya buat remake foto-foto tersebut. Lama kelamaan saya mempunyai gambaran tersendiri di kepala sebelum membuat foto tanpa harus melihat foto orang lain. Pada saat pemotretan saya berusaha mewujudkan imajinasi yang ada di kepala, tapi justru pada saat itu ide-ide lain muncul dan biasanya lebih baik dibanding dengan ide sebelumnya. Saya percaya semakin kita sering memotret akan semakin mudah untuk mendapatkan ide styling.

beberapa contoh styling yang telah saya buat

 

Setelah jatuh cinta dengan food photography tentu saja saya mulai memperhatikan props yang bisa menunjang foto-foto saya. Beruntung ibu mertua mempunya koleksi props dan pernak-pernik yang cukup menarik. Saya sering meminjam props dari dia. Saya juga berusaha menggunakan apa yang ada di rumah semaksimal mungkin disamping karena budget-nya yang minim untuk membeli props baru juga berkaitan dengan masalah penyimpanannya. Tentu lebih enak lagi kalau punya teman yang tinggalnya tidak jauh atau tetangga yang cukup akrab, jadi bisa juga dijadikan alternatif sumber props.

koleksi props yang saya beli sejak bergabung dengan didalam group Photograhy SLF tsb, sedikit kan?
 

Editing

Langkah terakhir sebelum foto di-publish saya melakukan editing. Berhubung masih gaptek dengan program editing yang susah-susah, saya hanya sedikit memperbaiki contrast, brightness dan sharpness dengan Adobe PhotoShop version 8.0.1. Setelah itu membubuhkan watermark. Di bawah ini contoh foto sebelum dan sesudah diedit.



F/4,5, 1/20second, 80mm, ISO-200

Meski saya masih amatiran dalam bidang food photography, tapi kecintaan dan semangat untuk berbagi ilmu kepada sahabat WOL sekalian, terutama yang ingin mempelajari bidang photography, semoga bisa mengambil manfaat dan input dari apa yang telah saya uraikan di atas….Keep on Click!
 

Tentang Penulis;

Dian Degen adalah anggota dan sahabat WOL yang tinggal di Salzburg, Austria yang memiliki bakat yang sangat menonjol dalam bidang  culinary dan photograhy.

.

Untuk melihat kolaborasi unik dan menarik dari dua bidang yang dikuasai Dian yaitu kuliner dan photography, Sahabat WOL bisa melihat kreasi resep yang di abadikan lewat kameranya lewat blognya yaitu 

http://empui.multiply.com/
http://dian-easycooking.blogspot.com/
http://www.flickr.com/photos/37193426@N08/

Ucapan terima kasih:
WOL mengucapkan terima kasih kepada Dian yang telah bersedia meluangkan waktu memberikan sumbangan artikel dan tips menariknya diantara kesibukannya. Tentunya, WOL berharap, Dian akan lebih sukses lagi dimasa datang.