DUA DIMENSI
Oleh Widi Frost  - Michigan; USA
Pengurus WOL

dan sambungan dari cerpen yang lalu dibawah ini....

Adapun jika teman yang ingin membaca dari bagian pertama, silahkan click disini...>>
 

................Paginya aku bangun dengan pengetahuan yang kudapat dari mimpi. Sungguh perlu kutuntaskan persoalan ini supaya lega hatiku. Ya Tuhan, tolong pertemukan diriku kembali dengan Vijay agar dapat kuluruskan sebuah persoalan penting, pintaku dalam doa.

Malam berikutnya aku tak mimpi istimewa, tetapi tadi malam ada mimpi agak aneh. Kulihat Vijay berdiri di sebuah lembah pemandangan yang kukenal sebagai candi tua di Jawa Tengah. Dulu sekali, bapak pernah membawaku ke sana . Mungkinkah Vijay ada di sana ? Kurasakan detak jantungku berpacu kencang. Aku harus ke sana !

"Dit, jangan lupa telepon balik pak Raden." Lagi-lagi suara Ajeng membuyarkan pikiran.

"Mas, kita pergi ke Jogya Sabtu ini. Penting." Ujarku kala suara Dimas menjawab telepon di ujung sana .

"Lhooo kok tiba-tiba? Ada apa sih? Aku ga bisa pergi karena pak le Didik datang Sabtu ini, perlu dijemput dari Gambir..."

"Bagaimana kalau minta tolong mas Tono untuk jemput?"

Dimas menghela napas lalu bertanya, “ada apa sih Dit?”

“Apakah mas percaya sepenuhnya padaku?”

Dimas menghela napas lagi sebelum menjawab: “ya….”

“Ikutlah denganku mas…aku tak dapat menjelaskannya sekarang, tetapi tak akan kupercayakan diriku kepada siapapun selain mas.”

Dimas tak menjawab, aku tahu hatinya galau memasuki titik penting dalam hubungan kami di mana kepercayaan mulai jadi taruhan.

Sepulang kerja aku sedang duduk di beranda saat Dimas muncul dengan raut lelah.

“ Ada apa ini Dit? Demikian mustahilkah bagimu mengatakan apa yang terjadi? Tidakkah kita sepakat untuk tidak bermain rahasia?”

Aku menatapnya lurus sembari menjawab, “ada gambaran yang pecah ruah dalam ingatan, tetapi aku belum dapat menyatukannya. Aku baru tahu sedikit saja. Namun tentang apa, mengapa dan bagaimana….aku sendiri belum menemukan jawabnya. Tak bisa kujelaskan pada mas, karena aku sendiri belum tahu.”

Dimas menggelengkan kepala, “apakah menurutmu aku perlu diuji?” Nada suaranya mulai tegas. Aku mengerti ia merasa dipermainkan dan ingin marah.

Aku menggeleng, “aku tidak main-main, hanya mas yang bisa menolongku. Mungkin hal ini tidak masuk akal dan terlalu aneh. Tetapi percayalah…amat besar artinya bagiku.”

Dimas duduk di sebelahku, menarik napas sambil mengusap muka dengan kedua belah tangan. Ia tampak gusar serta tidak tahu bagaimana menyikapi persoalan ini. Setelah melewati lima belas menit dalam kebisuan ia pun mohon diri. Aku terhenyak dalam binar kebimbangan. Gelisah panjang terbawa dalam tidur.

Besoknya Dimas menjemputku dari rumah dengan taksi, berangkat ke stasiun Gambir lalu naik kereta jurusan Jogya. Sepanjang jalan aku merasa kegelisahan hatinya memuncak. Tak kuragukan ia marah padaku. Sikap tenangnya yang senantiasa menyejukkan hatiku memudar. Suasana canggung dan tegang telah menyergap detik demi detik perjalanan. Aku merasa begitu asing dengannya serta ingin menangis…ya Tuhan….tolonglah kami….

Aku terkulai tidur entah berapa lama, kembali bermimpi melihat Vijay di candi tua. Dimas membangunkanku saat kereta berhenti di Cirebon . Aku beli dua telor asin dari panjaja asongan. Dimas beli dua teh botol. Kami mengisi perut dengan makanan dari kantin kereta yang kami nikmati dengan diam. Aku tahu Dimas punya seribu pertanyaan tak terucapkan. Dan aku tahu pasti bahwa hatiku telah terambil olehnya dengan tak bersisa. Tetapi…apakah hatinya telah terambil olehku? Bukankah ia sekarang tengah bimbang, apakah dapat mempercayaiku atau tidak? Cinta dan kepercayaan konon tidak dapat dipisahkan. Benarkah cinta tak punya kekuatan untuk berdiri sendiri?

tidak dapat dipisahkan. Benarkah cinta tak punya kekuatan untuk berdiri sendiri?

 

Tentang Penulis: Widi Frost,

Widi Frost adalah anggota WOL yang tinggal di Almont, MI. Selain kesibukan sebagai ibu rumah tangga, bulan September ini, Widi akan membantu WOL dalam tim newsletter. Widi juga mempunyai hobi menulis, photograhy dan membuat kerajinan tangan berupa kalung dan anting-anting. Dan semua hobi Widi disalurkan melalui tulisannya di MP: http://themermaids.multiply.com. Kami pengurus WOL  sangat berterima kasih pada Widi  yang bersedia untuk berbagi tulisan ini.