Perayaan Hari Kemerdekaan RI
17 Agustus di Big Island

Oleh Yani Shaffer, Hawaii, USA

Di edit oleh Ria Jumriati - Jakarta, Indonesia

Anggota WOL (MP)

 

 

Moment 17 Agustus 2009 adalah moment yang terbilang istimewa bagi penduduk Indonesia di Big Island, karena pada tanggal ini pertama kalinya kami mengadakan acara 17 Agustus untuk memperingati hari Kemerdekaan Indonesia. Meski agak sulit untuk mengatur pertemuan antar warga Indonesia di Big Island yang kurang lebih hanya berjumlah 50 orang, apalgi ditambah jadwal libur yang berbeda di setiap keluarga  karena tidak semuanya libur di hari Sabtu Minggu. Sebagian dari mereka ada yang bekerja di bagian tourism industry  dimana justru pada hari mana Sabtu Minggu itulah, jasa mereka sangat dibutuhkan untuk melayani para turis asing yang berkunjung. Hingga akhirnya, kebiasaan berkumpul pun sering dilakukan di hari Senin di pulau ini. Nah, karena kebetulan tanggal 17 Agustus ini jatuh di hari Senin, maka dengan semangat ’45 kami berusaha untuk mewujudkannya. Karena tahun sebelumnya batal terlaksana.

 

 Lalu panitia kecil pun kami bentuk, dimulai dari diskusi diruang milist IBIC (Indonesia Big Island Community),  Dari penyusunan permainan, konsumsi & pembagian hadiah untuk pemenang. Kita saling bahu membahu & berbagi tugas, siapa yang mempersiapkan sarung, kelereng, sendok, benang, pensil (untuk permainan). Tahun ini kita kesulitan untuk mendapatkan tambang yang pas, juga karung goni, maka itu permainannya diganti dengan balap sarung , bukan balap karung, lalu balap sendok dan kelereng. Selain itu ada juga lomba  memasukan pensil ke dalam botol, berhubung botol-botolnya nya pun kurang memadai, jadi kita ganti dengan menggunakan  kaleng juss. Ditengah kekurangan alat alat lomba, justru malah membuat kita makin kreative.


 
Acara berlangsung sangat meriah, meski hanya di hadiri 12 orang. Memang tidak banyak untuk ukuran sebuah perayaan kemerdekaan Indonesia, tapi semangat kami sebagai warga Indonesia yang jauh dari negeri tercinta tetap menjadi penyemangat acara bagi semua warga yang hadir yaitu : James & Yani Shaffer, Keith & Lina Steele, Anis Sanderson, David Tulak & Elisa, Dean & Deasy Seo, Marta Christensen, Steve & Lelly Gardner, untuk anak2nya: Samudra Shaffer, Keilani & Kekoa Steele, Thomas Seo.
 

 

 

Untuk bagian konsumsi,biasanya kita punya tradisi potluck,yaitu masing-masing membawa makanan yang nanti dikumpulkan menjadi satu dimeja prasmanan. Variasi menu kali ini tidak banyak disesuai dengan jumlah yang hadir. Tersedia menu gado-gado, pecel, tahu isi, tempe kering orak arik, gulai kambing, mie goreng, komplit dengan peyek kacang dan tradisional "donat kampung" sebagai penutupnya. Lebih special lagi dengan nasi merah putih seperti bendera kita yang dibuat khusus oleh salah satu teman yang membuat suasana meriah menjadi sangat meria dengan semangat patriotisme di wajah masing masing warga yang hadir.

 

 

 

Hingga tiba acara pengibaran ”Sang Saka Merah Putih” di iringi beberapa lagu wajib Nasional Indonesia yang di kumandangkan melalui salah satu MP3 player teman kami. Ada rasa haru, rindu dan tentu nuansa khidmat pada acara tersebut. Sampai kemudian beralih ke acara permainan yang penuh dengan canda, tawa dan kegembiraan penuh. Dihiasi dengan lomba-lomba yang dibawakan dengan semangat dan gerak gerik yang lucu semakin menambah keakraban diantara kita sesama putra putri perantauan yang jauh dari bumi pertiwi tercinta. Makanan yang sederhana tapi tetap membuat kami kenyang dan bahagia.



 

Walaupun hanya dihadiri 12 orang warga Indonesia di Big Island,.Namun  kita tidak pantang mundur dan tetap semangat 45 untuk menyelenggarakan acara memperingati kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus ini.

 

Terima kasih untuk IBIC crews sehingga acara  17 Agustusan  ini terselenggara dengan sukses.  Semoga ditahun tahun mendatang acara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia tetap bisa kita laksanakan di Big Island ini. 

 

 

**Kami pengurus WOL sangat berterima kasih pada Yani Shaffer yang bersedia berbagi tulisan ini.

 

@Photo-photo koleksi pribadi dari Yani Shaffer dan David Tulak.