Wanita dan Busnis:

Memulai Bisnis Dari Hobby
Oleh Rina Dewi Lina MM, CFP®-Jakarta, Indonesia
& Riana R. Iswahjudi, SE - Karl Ruhe, Jerman
Anggota dan Pengurus WOL

 


Tidak sedikit orang bingung untuk memulai suatu bisnis, walaupun kecil bentuknya. Macam-macam bentuk bisnis yang bisa dijalankan, terutama untuk ibu rumah tangga dan juga wanita bekerja. Ada banyak alasan bagi wanita terutama kaum ibu untuk membuka usaha sampingan dari rumah maupun diluar rumah. Tujuannya untuk mengisi kegiatan ataupun membantu suami mendapatkan penghasilan tambahan dan ingin mengaktualisasikan diri sebagai seorang wanita.

Biasanya pertanyaan awal yang selalu muncul sebelum memulai adalah "bisnis apa ya ?", "berapa modal yang dibutuhin?", "mampu gak ya aku bikin usaha ini?" , "bikin usaha sendiri atau berpartner ya ?".

Jawabanku selalu dikembalikan lagi ke teman-teman yang curhat, "kamu sukanya apa ?" biasanya mulai dari hobby yang terkadang tidak kita sadari, atau dari kegiatan lain yang sedang kita lakukan dan kita enjoy dalam melakukannya. Dari hal kecil seperti itu bila kita olah, dapat menjadikan suatu ide bisnis.
Mari kita gali lagi, apa yang kita suka dan enjoy melakukannya, yang bisa kita jadikan suatu bisnis ?. Kemudian “siapa aja sih teman-teman kita atau lebih tepatnya “market (pasar) kita” ?, Apabila kita jeli memperhatikan lingkungan yang paling dekat, itupun bisa menjadikan ide untuk suatu bisnis.

Modal ? Semua usaha sekecil apapun bentuknya pasti membutuhkan modal. Seberapa besar modal yang diperlukan, tergantung mau seperti apa bentuk/konsep usahanya.

Menjadikan hobby menjadi bisnis merupakan suatu langkah yang sangat positif. Walaupun bisnis yang akan dijalankan karena berdasarkan hobby tidak ada salahnya kita membuat rencana dan pertimbangan-pertimbangan .

Langkah Pertama adalah berpikir dan mempertimbangkan hal-hal dibawah ini.
1. Mulai melakukan bisnis secara professional.
2. Harus kita sadari kemungkinan resiko rugi atau gagal .
3. Mulai dengan bisnis kecil dulu.
4. Jangan menghabiskan seluruh modal untuk bisnis baru. Max 50% modal ( investasi ) yang dialokasikan untuk suatu usaha. Bila terjadi kegagalan maka kita masih bisa bangkit kembali untuk membangun bisnis baru.
5. Carilah partner atau teman untuk berdiskusi
6. Membuat rencana sederhana dan secara tertulis
Setelah itu kita buat strateginya secara sederhana berdasarkan 4 P (Philip Kotler, Marketing Managent, Prentice Hall International Edition)
1. Product atau produk yang akan diproduksi
2. Price atau harga penjualan
3. Promosi & Pemasaran yaitu bagaimana melakukan promosi & kemana akan dipasarkan, siapa target marketnya? Berdasarkan usia & jenis kelamin
4. Place ( Tempat / Lokasi ) untuk menjual produk tersebut dan pendistribusiannya bila diperlukan

Langkah ke dua adalah menentukan produk. Misalnya hobi merangkai aksesoris dari batu-batuan yang memang sedang “in” sekarang ini. Tentunya ada beberapa aksesoris seperti gelang, kalung, anting-anting dan lain sebagainya yang sudah terangkai dan disimpan. Dari sinilah bisnis dimulai, aksesories yang awalnya disimpan sebagai koleksi dapat dijual. Hasil penjualan digunakan sebagai modal untuk membeli kembali material juga untuk mengembangkan peralatan yang diperlukan. Jenis bisnis seperti ini dapat dimulai dari rumah, tidak perlu menyewa atau mengontrak tempat, sehingga harga jual harus lebih murah dari toko.
Tanpa disadari pertanyaan-pertanyaan di atas seperti "bisnis apa ya ?", "berapa modalnya ?", "mampu gak ya aku bikin usaha ini ?" sudah anda lakukan.

Pertanyaan berikutnya adalah , "bikin usaha sendiri atau berpartner ya ?". Bila bisnis masih kecil, lakukanlah sendiri, anda yang paling mengerti bisnis ini, tetapi bila perlu diskusi, berdiskusilah dengan orang yang sudah berhasil. Berdiskusi dengan orang yang pernah gagal dalam melakukan bisnis boleh saja, tetapi harus betul-betul pandai memilih yang dapat diambil sebagai pelajaran. Jangan sampai cerita kegagalan membuat anda menjadi demotivasi.

Bila ingin melanjutkan lebih serius, mungkin perlu partner dan kita mulai harus menghitung berapa banyak modal yang diperlukan, berapa harga dijual? Bagaimana mempromosikannya?

MODAL
Ada beberapa hal dalam mempersiapkan modal
1. Harga pokok yang meliputi : Biaya produksi termasuk harga material, dan biaya lainnya sampai menjadi suatu produk (barang) dalam bentuk yang sudah dikemas.
2. Biaya operasional : termasuk transportasi, biaya pegawai, biaya promosi dan biaya pengiriman (bila ada).
3. Perputaran penjualan

HARGA
Menentukan harga jual, bila produk ada juga dipasaran, harga harus lebih murah dari pada di toko minimal 25% lebih murah. Mengapa demikian ? Karena bisnis dirumah tidak memerlukan biaya sewa tempat, pramuniaga, listrik, maintenance dari toko atau biaya lainnya bila kita menyewa tempat khusus.

PROMOSI
Tidak ada orang lain yang akan tahu kemampuan atau keahlian kita, bila kita tidak mempromosikannya. Pertama-tama dalam melakukan bisnis adalah kita harus dapat “menjual diri” kita dalam arti positif. Tunjukan kemampuan anda kepada lingkungan anda lakukan tanpa malu-malu tetapi tetap memegang etika pergaulan. Jauh lebih efektif promosi dilakukan oleh kita sendiri dibandingkan dengan membagi-bagi brosur. Ingat pepatah “lagu terdengar merdu tergantung dari orang yang menyanyikannya”. Budaya di Indonesia yang menganggap hal yang memalukan bila kita berjualan sesuatu harus mulai dikikis, karena itu akan merugikan kita sendiri.

TEMPAT
Untuk sementara untuk tempat penjualan tetap dilakukan sendiri. Tempat bisa di rumah, online atau sesuatu yang tidak memerlukan modal mati (menyewa tempat termasuk modal yang mati). ~~~


Tentang Penulis

Rina Dewi Lina adalah Ahli Perencanaan Keuangan atau ‘Professional Financial Planner’, seorang profesional yang telah bekerja di bidang asuransi selama 10 tahun; dan juga sarat dengan pengalaman manajemen yang diperolehnya dari berbagai perusahaan dan industri. Tingkat profesionalisme dan kredibilitasnya juga didukung oleh latar belakang pendidikan dan sertifikasi yang berkaitan erat dengan profesinya yaitu:
• MM—Magister Management dari Pembinaan dan Pengembangan Manajemen (PPM), alumni tahun 1996 &  CFP®—Certified Financial Planner 2008

Gelar CFP® ini memberikan suatu kepercayaan bahwa seseorang yang berhak menyandang gelar ini adalah seorang Financial Planner yang profesionalismenya telah diakui di seluruh dunia. Seseorang yang telah memenuhi standard profesional, kode etik dan telah menyetujui untuk melakukan tindakan-tindakan yang melekat dengan gelar tersebut dalam hal prinsip-prinsip integritas, obyektif, kompeten, adil, menjaga rahasia, bersikap profesional, dan kesungguhan dalam menangani para kliennya.

Riana R. Iswahjudi

Riana Riorita Iswahjudi adalah Seorang Ibu Rumah Tangga, dengan 2 anak yang sedang berdomisili di Jerman. Dengan latar belakangnya sebagai sarjana ekonomi akuntansi ini, melakukan beberapa kegiatan diantaranya moderator milis, kegaitan menulis dan juga berbisnis jarak jauh dengan memanfaatkan bekerja sama dengan networkingnya. Tugasnya sebagai ibu rumah tangga yang sedang mendampingi suami studi dan berkarir dinegeri orang ini, tidak menyurutkan semangatnya untuk tetep beraktifitas, bergaul dan menjalin networking, yang juga sebagai salah satu hobbynya.

 

Ucapan terima kasih
WOL mengucapkan terima kasih kepada Rina & Riana yang telah bersedia meluangkan waktu memberikan sumbangan artikel dan tips menariknya diantara kesibukannya sebagai financial planner dan ibu rumah tangga.