Wanita dan Uang:
Apa yang
harus dipersiapkan bila terkena PHK?
Oleh Dra. Rina Dewi Lina MM.
CFP® - Jakarta,
Indonesia
Anggota WOL (Mailing
List, Forum, MP)

Domino
Efek akibat dari krisis keuangan
dialami Amerika, imbasnya mulai
terkena di Indonesia. Akhir 2008
dimana berita banyak menyampaikan
harapan-harapan baru pada tahun
2009, berita-berita yang
mengkhawatirkan juga menggaung.
Ahli
ekonomi memperkirakan dampak
terbesar di Indonesia adalah pada
tahun 2009. Akibat yang paling
ditakutkan adalah terjadinya PHK
besar-besaran di beberapa industri,
terutama yang mengandalkan hasil
industrinya diekspor ke luar negeri.
Permintaan eksport berkurang maka
produksi pabrik berkurang sehingga
PHK tidak dapat dihindari.
Kaitannya dengan hal tersebut, Saya
tertarik dengan satu tulisan pada
Koran Kompas :
December 1, 2008
“10% kenaikan pada angka penganguran
akan “diikuti” oleh kenaikan angka
kematian 1,2%, serangan jantung naik
1.7%, bunuh diri naik 1,7% dan
harapan hidup berkurang 7 tahu,
demikian analisis ekonomi Kompas
Senin 1 Januari, 2008.”
Luar
biasa, dampak dari terjadinya PHK—berarti
kesulitan bagi kehidupan keluarga.
Berapa lama seseorang harus menjual
assetnya atau meminjam uang apabila
terjadi PHK? Mengapa terjadi
demikian? Jawabanya sederhana,
karena kebanyakan dari keluarga
tidak menyiapkan dana darurat.
Bagaimana agar hal ini tidak terjadi
pada keluarga kita?, tetapi jangan
menutup mata bila kita atau pasangan
bekerja pada industri-industri yang
mungkin berdampak besar terhadap
krisis global, siapkan diri kita dan
keluarga dari SEKARANG. Apa yang
harus dipersiapkan bila terpaksa
menjadi pengangguran ?
1.
Biaya hidup.
• Langkah awal dan yang harus
dilakukan sekarang juga (jangan
ditunda), catat total pengeluaran
dalam sebulan. Bila masih ada
hal-hal yang bersifat konsumtif,
segera kurangi secara tertulis.
Bulan berikutnya pengeluaran sudah
sesuai ‘budget’ yang sudah dikurangi
hal konsumtif tersebut.
• Berapa banyak dana darurat yang
harus disiapkan untuk menutupi biaya
hidup? Minimal 6 bulan pengeluaran,
dalam kondisi seperti ini lebih baik
1 tahun.
Contoh : pengeluaran perbulan Rp
5.000.000,- maka dana darurat untuk
biaya hidup adalah Rp 60.000.000,-.
Dana ini harus diperlakukan sebagai
dana sakral, yang tidak boleh
diganggu untuk keperluan apapun.
Masalah terbesar adalah sebagian
besar keluarga tidak mempunyai dana
darurat sebesar ini karena lebih
banyak disimpan dalam bentuk asset.
• Bila suami istri bekerja yang
harus dipersiapkan minimal adalah
dari gaji terbesar yang diterima.
Misal: suami bergaji Rp 3.000.000,-,
istri Rp 2.000.000,-, maka jumlah
dana darurat minimal yang perlu
disediakan adalah Rp 3.000.000,- x 6
(bulan) = Rp 18.000.000,-. Bila
suami istri bekerja di industri yang
memiliki tingkat risiko yang sama,
maka total dana darurat minimal yang
perlu disediakan adalah Rp
5.000.000,- x 6 (bulan) = Rp
30.000.000,- (tolong jelaskan
darimana logika dari perhitungan ini)
2. Mental
• Pasti semua bertanya, mengapa
mental bukan nomor 1? Berdasarkan
pengalaman diri sendiri, mental
disiapkan tetapi jika tidak punya
biaya hidup, maka mental akan lebih
jatuh. Secara psikologis, ini adalah
sifat manusia, bila mempunyai uang (walau
tidak dipamerkan, seseorang masih
bisa berjalan tegak) rasa percaya
diri akan lebih tinggi dibandingkan
jika seseorang tidak mempunyai uang
(berjalan menjadi menunduk).
• Tidak hanya uang, tetapi nomor dua
terpenting dalam mempersiapkan
mental adalah aktifitas/kegiatan,
selama menunggu pekerjaan baru.
• Dukungan keluarga dalam melewati
hari-hari tanpa pekerjaan luar biasa.
Berarti masa-masa sulit dapat
dilewati bila satu keluarga bersatu
dan saling mendukung.
Tentang Penulis
Rina
Dewi Lina adalah Ahli
Perencanaan Keuangan atau
‘Professional Financial Planner’,
seorang profesional yang telah
bekerja di bidang asuransi selama 10
tahun; dan juga sarat dengan
pengalaman manajemen yang
diperolehnya dari berbagai
perusahaan dan industri. Tingkat
profesionalisme dan kredibilitasnya
juga didukung oleh latar belakang
pendidikan dan sertifikasi yang
berkaitan erat dengan profesinya
yaitu:
• MM—Magister Management dari
Pembinaan dan Pengembangan Manajemen
(PPM), alumni tahun 1996
• CFP®—Certified Financial Planner
2008
Gelar CFP® ini memberikan suatu
kepercayaan bahwa seseorang yang
berhak menyandang gelar ini adalah
seorang
Financial Planner yang
profesionalismenya telah diakui di
seluruh dunia. Seseorang yang telah
memenuhi standard profesional, kode
etik dan telah menyetujui untuk
melakukan tindakan-tindakan yang
melekat dengan gelar tersebut dalam
hal prinsip-prinsip integritas,
obyektif, kompeten, adil, menjaga
rahasia, bersikap profesional, dan
kesungguhan dalam menangani para
kliennya.
Ucapan Terima kasih
WOL mengucapkan terima kasih atas
sumbangan artikel keuangan ini yang
tentunya sangat membantu rekan-rekan
pembaca WOL.
Bagi rekan-rekan WOL yang tertarik
membaca artike-artikel Rina, anda
dapat membacanya disetiap penerbitan
e-Newsletter selanjutnya dengan
topik-topik yang akrab dengan
kehidupan anda sehari-hari.
Rekan-rekan yang tertarik untuk
berdiskusi lebih jauh dengan Rina
Dewi Lina tentang Keuangan ataupun
ingin berkenalan lebih jauh, silakan
mengunjungi link-link berikut:
http://ninarinaperencanakeuangan.blogspot.com
http://www.wanitaonline.com/newsletter/nov2008/wanitadanuang.htm
http://www.wanitaonline.com/newsletter/august2008/rina.htm
http://www.portalreksadana.com/node/311
Photo:
http://www.fotosearch.com/clip-art/domino-effect.html