Tari Bali dan Aku
Oleh: Denise Mardvall—Stockholm, Sweden
Anggota WOL di Multiply, Forum dan Milis


Tari Bali sudah dikenal di dalam dan di luar negeri sebagai aset budaya yang membawa harum nama bangsa terutama di belahan dunia yang lain. Sampai saat ini pun masih bisa dilihat bagaimana masyarakat Bali berusaha agar kesenian ini tidak punah yang mencoba mewariskannya sejak awal kepada generasi-generasi penerus bangsa terutama yang berada di Pulau Bali.


Terlahir sebagai wanita Bali dan dari keluarga yang sampai saat ini masih memegang teguh tradisi dan adat Bali, adalah suatu kewajiban untuk melestarikan kesenian yang sudah mendarah daging dari sejak pertama kali bisa menghapalkan beberapa gerakan dasar. Pertama belajar menari waktu berumur 5 tahun di sebuah kota kecil yang bernama Singaraja, di sudut utara tanah kelahiran tercinta Bali. Namun ketika itu hanya belajar gerakan dasar saja dan selanjutnya ketika menginjak kelas 2 sekolah dasar, mulailah mempelajari dasar-dasar gerakan tari Bali yang benar., dan bermacam-macam tarian diperkenalkan lebih lanjut oleh seorang Guru Tari di Lab UNUD Singaraja yang bernama Pak Putu Triyasa.


Pengalaman mengajarkan, bahwa untuk bisa menarikan tari Bali, diperlukan niat, tekad, kerja keras dan keinginan untuk belajar. Karena untuk dapat menarikan sebuah tarian, penghayatan dan juga pengetahuan tentang tarian itu sendiri sangatlah penting. Sebagai seorang guru tari, Bapak Putu begitu biasanya beliau dipanggil, sangat menerapkan disiplin kepada murid asuhannya, tidak jarang beberapa murid akhirnya menyerah dan beralih ke kagiatan ekstra kurikuler yang lain seperti menyanyi. Namun aku sebagai salah satu anggota keluarga yang memerlukan penari di setiap upacara keagamaan keluarga, mau tidak mau harus belajar dan mencoba untuk bisa setidaknya menguasai salah satu kesenian dan budaya Bali. Beberapa kali tampil walaupun hanya di sekolah dan di hadapan keluarga cukup menumbuhkan suatu kebanggaan tersendiri. Sehingga keinginan untuk melestarikan tarian Bali terus bersemayam di hati seorang Deni yang bermimpi suatu saat nanti bisa menarikan tari Bali di negara lain.

Ternyata, Tuhan mendengar dan mengabulkan keinginan untuk memperkenalkan salah satu budaya kebanggaan ini. Pada saat tinggal di Singapore dalam rangka beasiswa di bidang hotel management dan juga job training selama 1 tahun, kesempatan itu datang juga. Aku diminta tampil menari walaupun hanya sebagai acara tambahan pada saat upacara perkawinan salah satu tamu di New Park hotel tempat aku bekerja. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal perjuangan untuk menjadi penari yang lebih baik lagi.

Kesempatan kedua aku dapatkan ketika bekerja di salah satu hotel di kawasan Timur Tengah tepatnya Dubai, yang bernama Towers Rotana Hotel. Bekerjasama dengan Kedutaan Besar Indonesia yang ada di Dubai dan salah satu warga Indonesia yang berdomisili di Dubai yang bernama Mbak Susy, aku berkali-kali mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan kebudayaan Indonesia terutama tari Bali. Bahkan kali ini aku berkesempatan menari dihadapan Almarhum Zheik Zayed yang kala itu menjabat sebagai President of United Arab Emirates dalam acara The Biggest Human Flag for the President yang berlangsung di Abu Dhabi. Mulailah tawaran menari mengalir untuk mengisi acara di berbagai acara formal dan informal, seperti acara ramah tamah staf Kedutaan Besar Indonesia di Dubai dengan masyarakat Indonesia yang berdomisili di Dubai, acara pengumpulan dana yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi perempuan Dubai, acara 17 Agustus untuk para duta besar negara-negara tetangga yang pada kesempatan itu dihadiri juga oleh bapak Presiden Dubai, mewakili Indonesia dalam acara Global Village yang diikuti oleh berbagai negara yang memiliki perwakilan dan kedutaan di Dubai, dan acara-acara yang lainnya. Beberapa piagam diperoleh sebagai ucapan terima kasih dan lembaran koran lokal yang memuat tentang pertunjukan kebudayaan Indonesia di Dubai masih tersimpan rapi sebagai dokumentasi yang nantinya bisa dijadikan sebagai alat pemacu semangat untuk terus berjuang dan menunjukkan kecintaan kepada tanah air.

Ketika meninggalkan Dubai 2005, pengalaman dan kesempatan yang telah didapatkan membantu untuk terus bermimpi akan mendapatkan kesempatan lain di negara yang baru yaitu Inggris. Ternyata tidak semudah ketika menjalin kerjasama dengan kedutaan Indonesia di Dubai. Kedutaan besar di Inggris lebih memfokuskan kegiatannya dalam bidang ekonomi sehingga kesempatan untuk menari tentunya lebih sedikit dibandingkan waktu masih tinggal di Dubai. Namun semangatku tidak pernah pupus, sampai akhirnya tanpa disengaja, saat bekerja di salah satu restauran Itali, salah satu tamu yang makan, setelah mengobrol panjang lebar tertarik dengan tarian Bali. Waktu pun ditentukan dan dihadapan murid-murid sekolah dasar yang ternyata pernah belajar tentang gamelan, impian untuk menari kembali menjadi nyata. Tidak berhenti sampai disitu, aku pun beberapa kali mendapat kesempatan menari walaupun perlu diakui tidak sebanyak waktu di Dubai. Tapi setidaknya aku pernah memperkenalkan budaya Indonesia terutama Bali di Inggris sudah menjadi catatan tersendiri di lembar-lembar kehidupan yang aku susun.
 


Kepindahan ke Swedia, tanah kelahiran suami tercinta ternyata semakin membuka peluang yang lebih besar untuk bisa lebih dalam menekuni tarian Bali itu sendiri. Menetap sejak bulan Januari tahun 2008, aku sudah berkali-kali mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia yang sampai saat ini, warga Swedia sendiri masih rancu dengan kebudayaan Thailand. Pertama kali diberi kesempatan tampil adalah waktu acara rapat tahunan SIS (Swedish Indonesian Society) pada bulan Februari. Setelah itu sempat tampil di acara bazar di Täby dalam rangka menyambut hari raya Paskah. Kesempatan lain yang lebih besar datang saat tampil di Stockholm Kultur Festival pada tanggal 29 dan 30 Maret 2008 di Liljeholmen. Selain menari, aku juga diberi kesempatan untuk membuka stan berisi produk-produk Indonesia seperti lukisan, kalung, anting, tempat perhiasan dari bambu dan juga pembatas buku. Tidak lupa beberapa brosur yang aku dapatkan atas bantuan kedutaan besar Indonesia di Swedia. Pada tanggal 6 April juga dipercaya oleh pihak kedutaan untuk berpartisipasi dalam rangka International Day sebagai salah satu penampil di stan Indonesia di salah satu kampus yang ada di daerah Linköping.

Pada bulan Mei 2008, tepatnya pada tanggal 14 dan 15, sekali lagi dipercaya untuk menari dihadapan para tamu yang menghadiri acara promosi Indonesia di negara yang baru saja merdeka yaitu Latvia. Aku tampil bersama dengan tim gamelan KBRI Stockholm di dua tempat, yaitu Grand Hotel Latvia dan juga salah satu kampus SSE (Stockholm School of Economy) yang merupakan sumbangan pemerintah Swedia di negara yang baru saja lepas dari Rusia. Berangkat bersama-sama dengan staff KBRI Stockholm, tim gamelan pada tanggal 13 Mei 2008 dan kembali ke Stockholm tanggal 16 Mei 2008.

Pada bulan Agustus 2008, berkat bantuan seorang teman aku mendapat tawaran untuk tampil di acara kebudayaan terbesar di Stockholm yang terkenal dengan Stockholm Kultur Festival (Stockholm Culture Festival) yang akan diadakan di beberapa tempat di pusat kota. Aku akan menari pada tanggal 16 Agustus dan membuka sebuah workshop yang akan memberikan kesempatan kepada pada penonton untuk mencoba beberapa gerakan dasar tari Bali. Acara selanjutnya yaitu pada tanggal 26 Agustus dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang akan dihadiri oleh 200 undangan dari berbagai negara termasuk kementrian luar negeri Swedia. Dilanjutkan dengan menari dalam rangka Asian Festival yang akan berlangsung di daerah Huddinge pada tanggal 20 September 2008. Acara lain yang sudah dikonfirmasi adalah dengan sebuah organisasi yang bernama Odd Fellow di Swedia pada tanggal 4 Oktober 2008.

Sebagai wanita yang lahir dan besar di Bali, aku sangat berharap kesempatan untuk mempromosikan dan memperkenalkan kebudayaan Indonesia khususnya tari Bali tidak berhenti disini saja. Dengan doa dan dukungan keluarga dan teman-teman tercinta, aku yakin perjuangan dan tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan bangsa akan bisa diteruskan sebagai tanda kecintaan kepada tanah kelahiran.
Amien.
 

Tentang penulis: Denise Mardvall, anggota WOL yang tinggal di Stockholm, Sweden, Selain menari, Denise Mardvall juga mengisi waktu senggangnya dengan membaca buku terutama karangan Paulo Coelho dan juga menyalurkan bakat seninya dengan menulis puisi dan cerpen serta knitting dan travelling dan berbicara dengan alam sebagai ekspresi kecintaan dan kedekatannya pada alam dan kehidupan. Kami pengurus WOL sangat berterima kasih kepada Denise yang telah bersedia untuk berbagi artikel ini kepada sahabat-sahabat WOL..