Perempuan Indonesia Dalam Dua-Budaya
Oleh: Ani J-S—Virginia, USA
Editor in Chief
Saat kecil tentunya kita tidak
pernah membayangkan untuk
menghabiskan sebagian hidup kita
ditempat lain yang memiliki budaya
dan bahasa berbeda dari yang telah
sangat akrab dalam hidup kita. Namun,
ditempat lain ini pula kita memulai
tahap penting perjalanan hidup kita
sebagai manusia dewasa, yaitu
membentuk perkawinan. Perkawinan
dengan pria berbeda budaya dan
bangsa yang membawa kita jauh ke
negeri asalnya, jauh dari keluarga
dan teman-teman yang telah menjadi
bagian dari suka dan duka dalam
hidup kita.
Di tempat baru ini, kita memulai
perjalanan hidup kita dengan belajar
mengenal, mengerti dan menjadi
bagian dari masyarakat baru, namun
disaat yang sama, kita juga mencoba
untuk mempertahankan identitas dan
menerima diri kita apa adanya—sebagai
perempuan Indonesia yang sadar bahwa
kita memiliki kedudukan sejajar
dengan manusia manapun dibumi ini.
Perempuan yang “tidak malu sebagai
orang Indonesia” dan tidak perlu
“mencuci diri’ dari budaya dan asal
usulnya untuk “menjadi manusia yang
baru.”
Dalam proses penyesuaian ini, kita
kadang-kadang mengalami kebingungan
dan ketidaknyamanan karena memasuki
lingkungan atau situasi baru dan
konflik dari adanya benturan budaya—perbedaan
tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai,
yang dikenal sebagai culture shock.
Sebagai perempuan Indonesia yang
hidup di dua atau multibudaya,
benturan ini tidak akan pernah
hilang walaupun saat kita merasa
telah mampu menyesuaikan diri dengan
budaya setempat. Suka atau tidak,
ternyata perasaan ini akan sering
kita alami karena kita telah
memiliki perangkat nilai-nilai dan
cara pandang yang baru sebagai hasil
dari internalisasi dan adaptasi
dengan nilai-nilai dan cara hidup di
negara yang telah kita adopsi.
Benturan budaya dapat terjadi saat
berinteraksi dengan orang-orang
Indonesia yang memang masih dengan
kuat mempertahankan kekhasan
tatacara dan cara hidup di Indonesia
atau saat kita berinteraksi langsung
dengan budaya Indonesia di
Indonesia. Contohnya saat
bersosialisasi, mereka yang bertanya,
“kok belum punya anak sih, kan udah
lama nikahnya?” “kok anaknya cuma
satu, kan kasian tuh nggak ada teman
main.” Dan biasanya dilanjutkan
dengan pemberian nasehat yang tidak
kita minta. Walaupun kita tersenyum,
tentunya kita berkata dalam hati,
“kok usil amat sih, mau tau urusan
orang aja.” Atau saat kita
berkunjung ke Indonesia, kita tidak
bisa dengan mudahnya membeli makanan
di pinggir jalan karena mereka tidak
memcuci piringnya dengan sabun
bahkan penjaja makanan tidak
mengganti air cuci piring sama
sekali yang berwarna coklat (kotor).
Namun, pengalaman-pengalaman ini
telah menjadikan kita, perempuan
Indonesia yang berbeda, yaitu
perempuan Indonesia yang luwes,
rendah hati dan membumi. Perempuan
Indonesia yang mampu melihat dua
budaya secara bijaksana tanpa
merendahkan atau menyepelekan budaya
dan asal-usul kita, yang akhirnya
menjadi kekayaan batin kita.
Kekayaan tak ternilai yang patut
kita ajarkan kepada generasi penerus
kita; generasi yang menamakan diri
mereka sebagai “warganegara global”
yang memiliki penghargaan terhadap
budaya kedua orangtuanya dan
budaya-budaya dunia, serta keluwesan
dan kompetensi yang tinggi dalam
berinteraksi dengan lingkungan
multibudaya.
Photography -East and West live in
harmony- by Patty Thorbergsen"