Pengalaman Positif Dari Kebiasaan di Luar Negeri
Yang Dapat Diterapkan di Indonesia

Oleh: Christy Washington, California, USA

Ketua Harian WanitaOnline Society

Harus kita akui banyak sekali pengalaman kebiasaan-kebiasaan di luar negeri yang dapat diterapkan untuk kehidupan di Indonesia (baik bagi keluarga, teman, atau untuk lingkungan sosial), tentu saja tidak semuanya cocok untuk kebudayaan timur kita, tapi kita dapat mengambil kebiasaan-kebiasaan positif mereka yang mungkin dapat membantu membangun, mendidik atau bahkan merubah kebiasaan buruk di negara kita tercinta.

Dalam topik ini kita banyak mendapat masukan dari bukan hanya anggota WOL yang berdomisili di luar Indonesia, tetapi juga anggota WOL yang pernah travel ke luar negeri dan melihat perbedaan yang ada di Indonesia dan di negara-negara lain.

Beberapa contoh yang banyak kita lihat adalah:

masalah kedisiplinan,
kebersihan,
antri / menunggu giliran
tepat waktu (on time) dan lain-lain.

Seperti pengalaman dari Dewi anggota WOL di Indonesia yang sudah beberapa kali terbang ke luar negeri untuk menjalankan ibadah haji. Lebih tepatnya waktu Dewi berada di Singapore, pengemudi taxi di Singapore sangat disiplin, tidak ada yang menaikan tarif taxi, hanya karena kita adalah pendatang atau turis. Supir taxi juga tidak membawa Dewi berputar-putar sehingga harga meteran jadi tinggi seperti kebiasaan supir-supir di Indonesia jika mengetahui kita bukan orang lokal atau tidak mengenal. Atau dengan sengaja membawa kita ketempat mahal supaya mereka mendapat komisi, bahkan saat Dewi hendak memberikan tip mereka menolak tip tersebut.

Dewi juga memiliki pengalaman yang agak religius dengan penduduk di Arab, waktu Dewi ada di Mekkah. Setiap saat sholat tiba, walaupun pedagang kaki lima dan semua toko-toko yang sedang ramai tamunya, si pedagang akan langsung meninggalkan begitu saja barang dagangannya atau tokonya tanpa takut barang-barangnya diambil oleh tamu atau pembeli, bahkan tanpa mengunci pintu, mereka langsung meninggalkan tokonya untuk menjalankan sholat.

Untuk Lina yang berdomisili di Ohio, Amerika. Pengalaman yang paling Lina rasa patut dicontoh oleh masyarakat di Indonesia adalah;

1. Antri—in the line please
Kebudayaan mengantri sudah diterapkan dimana-mana di USA baik itu di post office, restaurant, didepan ATM, bank, bahkan untuk pemakaian WC umum, yang pasti dimana-mana, yang jelas ini adalah merupakan salah satu tradisi di Amerika walaupun terkadang jalur antrinya sudah sangat panjang, tidak akan ada dengan seenaknya memotong antrian tersebut.

Antrian bukan hanya dalam bentuk kalau orang-orang berdiri tapi juga antrian dalam lalu lintas, misalnya bila lampu lalu lintas mati, semua kendaraan dengan otomatis akan menunggu gilirannya untuk jalan, tidak ada yang berusaha untuk menyerobot karena itu hanya akan mengakibatkan kecelakaan dan juga lambatnya lalu lintas.

Pengalaman mengenai ANTRI ini sangat berbeda waktu Lina pulang ke Makasar dan pergi ke kantor post, untuk membeli perangko. Lina sangat terkejut melihat kerumunan orang di depan kasir saling berebutan untuk dilayani terlebih dahulu, bukan membuat pelayanan menjadi cepat, tetapi membuat proses semakin lama. Juga kejadian sama dialami Lina saat pergi mengantar teman membeli tiket kapal laut, disini dia dapat melihat siapa yang lebih kuat itu yang menang mendapat tiket.

2. Jualan Koran (newspaper) di box.
Untuk membeli koran sangatlah gampang, masukkan koin, buka penutup box nya dan terakhir mengambil koran dari dalam box.
Terkadang bila box nya baru diisi, akan penuh dengan koran, setelah kita memasukkan koin dan dapat membuka tutup dari box tersebut itu berarti kita bisa mengambil lebih dari satu, tapi hal itu tidak pernah terjadi di sini, tidak ada orang yang mengambil keuntungan dalam kesempitan, dan teman Lina ada yang menyeletuk, “wah kalau di Indonesia pasti orang sudah mengambil lebih dari satu, mungkin dia akan mengambil untuk teman-temannya, keluarganya dan juga tetangganya.”

3. Tata Cara Dalam di Meja Makan;
Makan dengan mulut tertutup. Berbicara pada saat makan dan dengan mulut penuh dengan makanan kadang masih kita temui dimana-mana di Indonesia. Yang untuk kebanyakan bagi orang-orang di negara yang telah maju, dianggap sangatlah tidak sopan, karena semua orang bisa melihat apa yang ada dalam mulut kita, dan juga dapat membuat orang lain disekitar kita kehilangan selera makan.

4. Jam Karet;
Sudah menjadi tradisi dinegara kita untuk tidak on time / tepat waktu, mungkin tidak semua orang di Indonesia masih membudayakan kebiasaan tersebut tapi mayoritas kita sudah terbiasa dan tidak mengharapkan orang untuk tepat waktu. Dan kebiasaan ini kadang masih dibawa oleh teman-teman kita ke luar negeri yang tentunya sangat bertentangan dengan kebiasaan disini yang orang selalu menghargai waktu dan selalu berusaha untuk menepati waktu atau kalau bisa datang sebelum waktu yang disetujui bersama.

5. No Show No Call;
Kedengerannya sangat familiar buat kita di Indonesia, tapi tidak untuk orang-orang di luar negeri, ini adalah sangat RUDE / kasar. Bila kita diundang untuk datang ke suatu acara2 dan kemudian pada saat terakhir kita berhalangan datang, lebih baik kita menelpon atau email, kita tidak bisa tidak datang atau membatalkan acara tanpa memberikan warning / peringatan / pemberitahuan.

Sitha di France mempunyai pengalaman-pengalaman sendiri mengenai taxi, antrian dan kedisiplinan.

1. Antri katanya lumayan tertib; Tapi kalau berurusan dengan sesama orang asing di kantor prefecture, waktu mau antri masuk kantornya (untuk mengurus ijin tinggal), pasti ada aja yang tidak mengikuti aturan. Tapi secara umum, urusan antri disana bagus. Di dalam kantornya sendiri, harus ambil nomor urut yang wajib ditunjukkan ke petugasnya saat nomor kita dipanggil.

2. Transportasi umum; tiket bisa berlaku satu jam dan bisa dipakai untuk bus, metro atau tram. Untuk family, ada tiket keluarga yang bisa dipakai seharian di hari Rabu, Sabtu dan Minggu. Ini sungguh sangat mengirit dan sangat ekonomis.

3. Barang jatuh di jalan; disini rata-rata orang tidak akan ambil barang yang bukan miliknya. Jadi kalau ada barang jatuh di jalan, misalnya, syal anaknya, pas dia balik menyusuri jalan, syal anaknya tergantung di satu tiang, bukan terdampar di jalan. Berarti orang yang menemukannya, meletakkan di tempat yang lebih tinggi dan aman.

4. Kantong belanja; disini boleh bawa plastik sendiri buat belanja. Sebagian besar bawa tas khusus belanja juga. Jadi, kita ke supermarket dan pasar tradisional sudah bawa tas dan / atau plastik sendiri. Kurang tahu ya sekarang di Indonesia bisa tidak bawa plastik atau tas belanja sendiri ke supermarket seperti Carrefour atau Superindo.

5. Jalan kaki; ini kebiasaan sehat orang-orang disini, kebanyakan pada jalan kaki untuk tujuan yang tidak jauh. Sitha jemput anak ke sekolah juga jalan kaki. Pulang balik sekitar 40 menit, 4 km. Dari rumah ke tempat kursus bahasa juga jalan kaki sekitar 20 menit. Karena bus atau kendaraan umum juga tidak bisa berhenti sembarangan, jadi orang-orang pada jalan kaki ke halte atau pangkalan taxi.

6. Taman kota; gratis dan bersih. Mau main bola, piknik, liat hewan keliaran bebas (burung, tupai, bukan gajah lho... hehe), duduk di pinggir sungai, tiduran di rumput sambil menatap langit, anything... Pokoknya taman kota jadi tempat andalan kami sekeluarga buat bersantai. Kapan ya ada taman seperit itu di Jakarta?

7. Sapa menyapa; disini, kenal tidak kenal, kalau berpas-pasan di sekitar apartemen, sekolah, etc, saling mengucapkan salam. Senyum saja rasanya tidak cukup. Harus ucapkan salam, Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam. Jadi, termasuk sopan juga menurut aku.

8. Ucapan TERIMA KASIH dan PLEASE; keduanya wajib. Anak-anak sudah diajarkan sejak dini bahwa harus ucapkan terima kasih bila diberi, dan mengucapkan 'please' bila meminta tolong. Tidak ada itu kalimat permintaan yang bernada bossy / memerintah.

Selain itu Sitha juga setuju dengan pendapat Dewi mengenai Singapore, taxi yang tidak berusaha mengambil keuntungan pribadi, antri dan kebersihan di Singapore patut mendapat acungan jempol, bersih, tidak ada orang yang membuang sampah sembarangan. Dan yang terakhir dari Sitha adalah keamanan yang terkait dengan keisengan atau mulut usil, di Singapore dia tidak mendapatkan orang yang bersuit, karena itu para wanita juga merasa aman atau comfortable dalam berpakaian menurut selera mereka masing-masing.

Lina juga setuju dengan apa yang telah diuraikan oleh Dewi dan Sitha di atas;

1. Ucapan TERIMA KASIH dan PLEASE: anak-anak semua telah diajarkan untuk memberikan Ucapan TERIMA KASIH dan PLEASE;

2. Senyum dan say Hi, kalau lewat walapun tidak mengenal. ( kebiasaan ini mungkin hanya cuma ada di kota kecil saja, tapi kalau seperti kota-kota besar seperti di LA sudah tidak lagi seperti itu ).



3. Lost dan found; seperti kata Shita, di MALL dan Airport kalau ada barang jatuh tidak akan di ambil, yang dapat biasanya membawa barang tersebut ke departemen lost and found. Jadi kalau barang ketinggalan tinggal check disana.
(mungkin tidak semua orang seperti itu, tapi kebanyakan masih banyak yang jujur).
Juga di jalan, dan untuk binatang-binatang piaraan yang hilang, atau sepeda, disini biasanya siapa yang menemukan akan memasukkan ke surat kabar, “ditemukan ini dan itu.., yang punya silahkan ambil di....atau hubungi .......” (Tapi sekali lagi tidak semua orang seperti itu cuma kebanyakan akan melakukan seperti contoh diatas, jadi tergantung pada pribadi masing-masing ).

4. Bersih, yang buang sampah di jalan kalau kelihatan pak polisi bisa mendapat tiket, dan harus membayar uang di pengadilan atau masuk penjara dan harus melakukan publik service ( seperti memungut sampah dijalanan dalam kurun waktu yang ditentukan oleh pengadilan ). Dan kalau di Mall sudah ada kotak-kotak sampah hampir disetiap sudut, sehingga tidak ada alasan untuk membuang sampah sembarangan.

5. Untuk sign-sign / tanda lalu lintas;
“Neighborhood Watch”, maksudnya adalah kita dalam hidup bertetangga saling membantu dan memperhatikan kalau ada orang-orang yang di curigai datang ke area tsb, dan akan di laporkan ke polisi.
Slow Children PLAY; ini maksudnya dalam neighborhood itu banyak anak-anak, maka diminta agar menyetir sesuai dengan batas kecepatan yang ditentukan dan juga harus berhati-hati bila ada anak-anak yang sedang bermain.

Bagi Ani di Virginia dia mempunyai pengalaman untuk topik ini dan diambil dari hasil observasinya.

1. Customer Service; paling mengesankan tentang customer service khususnya di beberapa negara Eropa, dan negara-negara maju di Asia, khususnya Amerika. Bayangkan kalau kita berubah pikiran tidak mau beli barang kita bisa kembalikan barangnya, walaupun kita sudah membuka bungkusnya asalkan bungkus aslinya masih lengkap dan kita masih mempunyai tanda bukti pembelian barang tersebut.

2. Tempat praktek dokter yang akan menelepon para pasiennya untuk mengingatkan waktu perjanjian atau apabila pasien tersebut ingin membatalkan atau menunda kunjungan ke dokternya.

3. Tingkat higienis; kalau kita coba barang-barang yang langsung bersentuhan dengan bagian tubuh kita, kita harus memakai pelindung, seperti kalau kita coba sepatu kita harus pakai kaos kaki, atau pakai kaos kaki yang disediakan oleh toko.

4. Sampah; adanya manajemen sampah yang cukup baik, dan adanya kesadaran masyarakat yang cukup tinggi dimana masyarakat membuang sampah berdasarkan jenis sampah, seperti: botol plastik, koran, kardus, kayu atau pepohonan. Disamping itu juga pemerintah melakukan penanganannya dengan serius.

5. Sikap Pemerintah sebagai public servant; selama saya tinggal di Jerman dan Amerika, karyawan pemerintah betul-betul public servant. Kalau saya meninggalkan pesan, mereka akan menelepon saya atau meninggalkan pesan di voice mail atau email dan menjawab pertanyaan yang saya butuhkan dalam waktu 24 jam. Contohnya: saat saya telepon IRS untuk minta transkrip tax return, mereka mengirim data melalui fax dan data melalui pos pada hari yang sama. Dalam hal ini juga menyangkut urusan dengan polisi, mereka akan bereaksi sangat cepat jika menerima telepon panggilan dari warga setempat.

6. Patuh Hukum; di negara Jerman dan beberapa negara Eropa Northern America yang saya kunjungi, khususnya Amerika Serikat masyarakat jelas atas hak mereka, pemerintah membantu para warga negaranya untuk memperoleh informasi dan juga menyediakan informasi secara langsung (menelepon kantor pemerintah) untuk minta dikirim lewat pos, atau juga lewat internet.

7. Hukum dan peraturan di tempat kerja; karyawan dilindungi oleh pemerintah melalui hukum ketenagakerjaan, contohnya: sexual harrashment, proses keluhan dan permasalahan kerja yang jelas, keselamatan kerja yang dengan jelas diinformasikan di tempat kerja dengan segala konsekuensinya.

8. Hukum tentang Noise (noise ordinance); kita bisa memanggil polisi kalau ada tetangga yang memasang musik atau membuat keributan yang menganggu orang-orang atau tetangga-tetangga di lingkungan rumah.

9. Perlindungan terhadap wanita dan anak; pemerintah menyokong lembaga untuk melindungi para wanita dengan menempatkan para wanita yang terancam karena penganiayaan oleh suami dalam rumah tertentu. Bagi anak, jika anak terancam kehidupannya dalam rumah yang melakukan penganiayaan, pemerintah melalui social services akan turun tangan dan mengambil alih anak tersebut dari orang tuanya.

10. Pelayanan Rumah Sakit; rumah sakit mendahulukan keselamatan para pasien, dan menanyakan pembayaran setelah memberikan pertolongan. Di Indonesia, kalau kita tidak punya uang, kita akan dibiarkan saja, sangat menyedihkan melihat situasi ini.

11. Kemudahan dalam melakukan transaksi dengan institusi pemerintah: pemerintah menyediakan internet dan juga pembayaran melalui kartu kredit atau kartu debet. Contohnya: saya bisa memperpanjang KTP dan plat nomor online dan KTP dan plat nomor akan dikirim lewat pos, dan jika kita melakukan pembayaran pajak.

12. Kejujuran dan Kepercayaan antara Pelaku Bisnis dan Pelanggan; contohnya: pada musim dingin biasanya pemilik toko akan menempatkan windshield fluid, kayu bakar di luar toko dimana pelanggan datang membayar di dalam toko dan mengambil produk tanpa adanya supervisi dari pegawai toko.

Ada juga yang berpendapat salah satu yang penting untuk dirubah adalah Sistem Birokrasi di Indonesia. Mungkin ada baiknya mengambil contoh dari negara yang telah maju. Di Indonesia seperti kita ketahui semuanya ada dua jalur birokrasi yang transparan. Jalur pertama adalah, jalur standard dimana jalur ini selalu memakan waktu yang sangat lama dan berliku-liku. Jalur kedua adalah jalur cepat tapi illegal, jalur ini adalah jalur dimana kita dapat membeli kemerdekaan dari birokrasi dengan harga yang tidak murah tapi semua urusan bisa berjalan dengan cepat, dan kebanyakan orang memilih jalan ini, karna mereka tidak harus berurusan dengan birokrasi yang berbelit-belit.

Contoh lain seperti misalnya bila kita mempunyai restaurant, disini selalu ada inspeksi dari Departemen Kesehatan untuk mengecek kebersihan restaurant, temperatur tempat kita menyimpan bahan-bahan makanan yang belum dimasak, mereka akan menge-check daging, ayam bila tidak sesuai dengan temperatur yang telah ditentukan akan langsung dibuang dan restaurant tersebut bisa ditutup. Tidak seperti di Indonesia bisa buka restaurant di pinggir-pinggir jalan yang sudah pasti tidak bersih, disini tidak gampang untuk membuka restaurant semuanya harus di periksa dulu dan lengkap surat-suratnya.

Sebenarnya banyak sekali contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari diluar negeri yang bisa diambil dan diterapkan di Indonesia. Tapi semuanya kembali kepada kemauan kita untuk menerapkan kebiasaan yang baik, membuang kebiasaan buruk dalam kehidupan kita sehari-hari dan juga dari pemerintah untuk betul-betul menerapkan cara hidup yang lebih teratur, disiplin dan bersih.


Sumber informasi:

- Hasil angket para anggota WOL; (Q&A) Pengalaman Positif Dari
Kebiasaan di Luar Negri Yang Dapat Diterapkan di Indonesia.

 

Tentang Penulis: Christy Washington adalah Ketua Harian WanitaOnline Society; yang tinggal di yang tinggal di California, USA. Kami Tim Newsletter sangat berterima kasih kepada Christy yang telah bersedia untuk merampung artikel ini untuk sahabat-sahabat WOL..