SAFINA'S COOKIES
Oleh Ria Jumriati—Jakarta, Indonesia
Pengurus dan Duta WanitaOnline Society di Jakarta

Logo dan nama “Safina’s Cookies” terpampang pada tempat yang tidak terlalu “eye catching” bahkan nyaris tertutup rimbunnya daun jambu air yang tumbuh dihalaman mungil keluarga Safina. Tapi setiap kali orang melintasi rumah sederhana itu, pasti akan mencium aroma lezat kue kue kering yang tengah dibuat Safina dan Liana -Ibunya. Menerima pesanan kue-kue kering atau menitipkannya pada mini market terdekat adalah cara utama yang dilakukan mereka untuk membiayai hidup. Safina adalah yatim yang sejak kecil menjalani hari harinya sebagai gadis dengan anuegerah dan dilema tersendiri. Perjuangan panjang dan belum berakhir hingga kini, masih terus dilakoni Liana dan tentunya Safina sebagai gadis penyandang autisme. Sejak usia 5 tahun dan hingga 18 tahun usianya kini, meski ada perubahan berarti namun ‘ciri autisme’ masih melekat di dirinya. Walau ia sesekali bisa keluar dari ‘dunia abstrak’ nya, namun hidup dan kebiasaan Safina tetaplah berbeda dengan gadis normal pada umumnya. Meski wajahnya dinaungi pahatan kesempurnaan seorang dewi. Kesulitan berinteraksi, rendahnya empati dan terlalu sulit mengekspersikan emosi, pada akhirnya memberi stigma ‘tak normal’ pada gadis cantik itu. Satu hal positif yang bisa dipergunakan dari kekurangan yang ada pada diri Safina adalah membuat cookies dengan bentuk dan ukuran yang selalu sama tanpa membutuhkan cetakan. Hal inilah yang kemudian sangat dimanfaatkan oleh Ibunya. Safina bisa berjam-jam lamanya larut dalam pembuatan kue-kue kering dengan jumlah ratusan tanpa ada ekspresi lelah diwajahnya. Hingga Liana harus menyatukan rasa dengan putri semata wayangnya, kapan kira-kira anaknya tersebut harus istirahat.

“Fina, istirahat dulu Nak” Raih Liana sambil merangkul gadis bermata bening itu. Safina pun menghentikan pekerjaannya. Ia terduduk dengan desahan lelah, namun tak ada komentar peluh sedikitpun yang keluar dari bibirnya. Bahkan ia sama sekali tak tergerak untuk menghapus buliran keringat yang membasahi kening dan leher jenjangnya.
“Makanlah dulu lalu istirahat, nanti baru bantu Ibu lagi ya ?” Bujuk Liana sambil menuntunnya memasuki kamar tidurnya.
“Tidak mau tidur…” Ujarnya datar tanpa ekspresi.
“Kalau begitu belajar saja ya, Nak” Bujuk Liana lembut sambil menyodorkan gambar “Compic” yaitu sekumpulan gambar linear yang konon bisa membantu individu autisme untuk mengekspresikan diri. Safina hanya menatap gambar itu sekilas, perhatiannya justru lebih terfokus pada jari jemarinya. Ia kembali mempermainkannya. Liana mendesah lelah dan pasrah. Bertahun-tahun ia berusaha memberi kehidupan terbaik buat Safina dengan rentetan terapi wicara, prilaku, biomedik, integrasi sensoris dan lainnya. Belum lagi pil suplemen dan vitamin yang mungkin sudah ratusan jumlahnya ditelan Safina. Namun gadis itu tetap saja tak memiliki keceriaan seorang gadis normal. Hal terberat yang dialami Liana adalah ketika Safina mendapat menstruasi untuk pertama kalinya. “Tantrum” yang telah bertahun tahun sembuh mendadak kumat ketika ia mendapati area sensitivnya berlumur darah. Namun ketabahan yang dianugerahi Tuhan melalui jiwa Liana dengan cepat mengatasi itu. Secara bertahap dan tanpa bantuan siapapun, demi menjaga privasi dan harga diri anak gadisnya, Liana memberi pengertian dan pengajaran pada Safina untuk menyikapi perubahan itu. Butuh satu tahun lamanya berguru pada Ibunya, barulah gadis itu bisa mengganti sendiri pembalutnya. Bagi Liana, setiap menit di kehidupannya adalah cobaan. Terkadang sisi gelap batinnya mengartikan itu sebagai kutukan. Namun wajah lugu Safina selalu kembali mengajaknya untuk mensyukuri berkah ini dari sisi yang berbeda. Walau secara manusiawi itu memang sangat berat. Belum lagi ketidakmengertian masyarakat tentang autisme, hingga terlalu sering memojokkan dan mengelompokkan Safina sebagai orang sakit jiwa. Padahal autis hanyalah gangguan perkembangan pada perilaku dan bukan kejiwaan. Tapi dimanapun mereka tinggal, selalu saja ada orang yang begitu mengucilkan Safina.
“Sayang ya, cantik cantik sakit jiwa” Ujar Bu Susi tetangga seberang rumah mereka. Sakit ! sudah pasti Liana merasakan batinnya tertusuk begitu pedih dengan hinaan itu.
“Anak saya tidak sakit jiwa Bu, dia hanya mengalami gangguan prilaku dan kurang mampu mengekspersikan emosinya” Jelas Liana seraya menahan gemuruh didadanya.

“Oo, sakit apa sih ? Kok aneh ya, lebih sering menyendiri dan kalau didekati sering tiba-tiba kabur !” Selorohnya cuek “Anak saya saja sampai ketakutan kalau melihat anakmu itu…cantik sih cantik, tapi kok aneh”
“Tidak usah takut Bu, Safina sama sekali bukan mahluk berbahaya. Emosinya memang tak berkembang seperti layaknya anak normal. Mohon maklumi itu” Sahut Liana serak. Ingin rasanya ia berteriak agar seluruh dunia mendengar bahwa penderita autisme juga manusia yang berhak mendapat perlakuan sama layaknya dengan orang normal. Dan waktu memang berjalan begitu lambat di dunia Liana dan Safina.
Bunyi dering telepon menyentak lamunan Liana. Sejenak ia menghentikan pekerjaan menata kue-kue kering ke dalam toples dan berjalan pelan ke meja telpon.
“Bu, pesanan kue saya sudah jadi ?” Tanya suara diujung telpon. Liana tersentak kaget. Ia sama sekali tak ingat ada pesanan Bu Anita yang harus di antar hari ini.
“Oh..eh..pesanan yang mana ya, Bu ? Kuenya yang mana ya ? Jawabnya gugup.
“Ya, ampun ! Saya kan pesannya kemarin dan minta di antar sore ini”
“Aduh, maaf Bu. Kuenya sih ada, tapi yang jenisnya apa ya, saya lupa”
“Diabetic Flower Cookies dan Custard Finger, Jangan salah ya Bu. Anak saya cuma mau ngemil kue itu”

“Oh, ada ada Bu. Nanti segera saya antar, ya “ Balasnya cepat. Setelah menutup telepon mendadak pikiran Liana kembali kalut. Ia melihat kue-kue keringnya yang belum lagi masuk toples. Dan beberapa adonan kue yang harus dibuatnya sekarang juga. Lalu siapa yang harus mengantar kerumah Bu Anita ?. Liana masih terpaku bimbang ketika Safina datang dan duduk di meja makan lalu mulai membentuk cookies bunga lily seperti biasa.
“Sudah tidur Nak ?” Tanyanya lembut. Safina hanya mengangguk pelan.
“Fina, Mama minta tolong, kamu bisa kan Nak ?”
“Tolong ?” Tanyanya datar lalu diikuti rentetan kalimat panjang tanpa arti. Seperti biasa Liana pun langsung memotongnya.
“Fina kan pernah Mama ajak kerumah Bu Anita. Tolong kamu antarkan pesanan kuenya ya. Biar nanti Bang Nana langganan ojek kita yang mengantarmu. Bisa kan Nak ?” Liana memandang wajah bening putrinya. Ada perasaan was was dan tak tega bergelayut dibenaknya. Safina pun mengangguk cepat dan segera bersiap pergi.
“Tunggu dulu Fina, biar Mama siapkan dulu pesanan kuenya”
Dengan perasaan sedih, Liana terpaksa melepas kepergian Safina yang untuk pertama kalinya mengantar kue pesanan seorang diri. Sambil memberi wejangan panjang kepada Bang Nana, agar menungguinya hingga selesai. Liana pun berkali kali mengajarkan kalimat demi kalimat yang harus diucapkannya saat bertemu Bu Anita dan berterima kasih saat uang bayaran diberikan.
Di depan rumah megah Bu Anita. Safina hanya terpaku didepan pintu besar dengan ukiran mewah. Sebelum ia mengetuk pintu itu. Seraut wajah menyambutnya dengan tak sengaja. Ia terpaku memperhatikan wajah manis tanpa ekspersi dihadapannya. Ditangannya ada beberapa toples berisi kue kesukaannya yang langsung bisa dilihat karena terbungkus kantong plastik transparant.
“Mau nganter kue ya ?” Tanyanya ramah sambil mengajak Safina masuk. Tapi gadis itu langsung melangkah mundur ketakutan.
“Loch, kenapa ? Ayo masuk..Mamaku tidak ada tapi dia sudah titip bayaran kuenya” Terang Dimas sopan sambil terus menatap mata bening Safina yang tertunduk dalam. Ada debar aneh yang menyusup dibenak lelaki muda itu. Keluguan Safina seolah menebar nuansa tersendiri di relung terdalamnya.
“Saya mengantar kue ini untuk Ibu, semoga anak Ibu suka dan terima kasih atas bayarannya…..” Ujar Safina tiba tiba seperti boneka yang tiba tiba di setel untuk bersuara. Bukan main terkejutnya Dimas. Serta merta benaknya langsung diserbu berbagai pertanyaan tentang gadis sempurna dihadapannya. Loch kok ????
“Loch kamu bicara apa ? Kenapa Kamu ?” Tanyanya tak mengerti namun tetap berusaha tersenyum. Melihat gelagat Dimas dan ketidaknyamanan Safina, Bang Nana pun segera turun dari ojeknya.

“Maaf Pak, saya harus segera mengantar Fina pulang “ Tutur Bang Nana Sopan. Sementara Dimas masih terpaku dalam ketidak mengertiannya.
“Terima kasih atas bayarannya Bu, semoga anak Ibu suka…..” Tiba-tiba Safina kembali dan berulang ulang mengucapkan kalimat itu. Dimas semakin tak mengerti. Sementara Bang Nana langsung menarik lengan gadis itu pelan dan segera membawanya pergi.

“Pak, tunggu Pak…Ada ada dengannya Pak ? Kenapa bicaranya seperti itu?” Kejar Dimas penasaran. Sementara mata Safina mulai basah. Ia semakin merasa tak nyaman. Sejenak Safina menyadari ada yang salah dalam dirinya. Ada sedikit perasaan malu yang menyentuh rendahnya pondasi emosi yang dimilikinya. Tapi sekali lagi terlalu sulit buatnya untuk sekedar memperbaiki apa yang sudah bisa dirasakan sebagai sesuatu yang salah. Akhirnya gadis itu pun hanya bisa menangis.
“Maaf Mas, dari kecil emang sudah begitu…kata Ibunya kena autis. Saya sendiri gak ngerti penyakit apa itu. Tapi, dia nggak gila kok Mas. Anaknya baik..kasihan, dia anak yatim” Terang Bang Nana sambil menatap Safina iba.
“Autis ? Dimas menganga tak percaya. Ditatapnya kembali wajah bidadari dihadapannya. Rasa simpati dan iba serta merta teracik menghadirkan ‘rasa’ baru dibenak Dimas. Spontan di raihnya jemari lembut Safina.
“Biar saya yang antar pulang, Pak” Pintanya kemudian tanpa melepaskan tatapannya pada wajah Safina.
“Wah, jangan Mas ! nanti saya diomelin Ibunya”
“Percaya pada saya Pak, saya akan menjaga Fina dan mengantarnya pulang”
“Jangan Mas ! Biar saya cuma tukang ojek. Tapi sudah terlanjur dipercaya sama Ibunya, dan saya juga sayang sama anak ini. Saya sudah kenal dia sejak kecil” Bang Nana pun bersikeras. Akhirnya terjadi perdebatan memperebutkan Safina. Bang Nana tetap pada pendiriannya hingga akhirnya tangis Safina pun pecah. Tanpa sadar Dimas langsung memeluk tubuh gadis itu. Racikan ‘rasa baru’ itu semakin menebar sempurna disanubarinya. Simpati dan iba itu kini berganti keinginan untuk melindunginya.
“Tuh kan, Fina memang begitu Mas. Kalau dengar suara terlalu ribut apalagi orang berantem, dia jadi kayak gini nih…” Ujar Bang Nana menyalahkan Dimas. Segera dituntunnya lengan Safina menuju motor bututnya. Dimas pun tak mampu mencegah lagi. Diperhatikannya langkah Safina sampai akhirnya hilang terbawa ojek Bang Nana. Namun di meja masih tergeletak kue kering pesanannya. Diperhatikannya logo “Safina’s Cookies” yang menempel pada toples. Dimas mendesah pelan sambil mengingat nomor telpon dan alamat yang tercantum jelas disana.

Safina merebahkan tubuhnya sambil menatap langit langit kamar. Ada detak aneh di dadanya. Pelukan Dimas telah memberi arti yang terlalu rumit untuk diterjemahkan oleh perasaannya. Namun, ia merasakan kebahagiaan diantara kegelisahan yang juga ada. Gadis itu pun bangkit, wajah cantiknya langsung terpantul kaca meja riasnya. Ia pun berjalan menghampiri cermin itu. Perlahan disentuhnya bibir ranumnya, pipinya…tiba-tiba ia tersenyum. Sekali lagi, Safina sama sekali tak bisa mengartikan kebahagiaan yang tengah melanda sanubarinya.
“Fina..Fina ! Tiba-tiba Liana datang tergopoh mendatangi kamar anaknya dengan wajah pucat namun sumringah. Safina menoleh pelan.
“Ya, Ma..”

“Ada cowok, Fina !…Dia mencarimu, siapa dia Nak ? Dia…dia membawakanmu banyak sekali bunga mawar !” Tutur Liana terbata hampir menjerit kegirangan.
“Cowok ?” Ada kernyit tak mengerti di matanya.
“Iya Nak ! Katanya namanya Dimas, orangnya ganteng! Ayo temui dia Nak”
Safina berjalan pelan menuju ruang tengah. Matanya langsung bersirobok dengan tatapan Dimas. Dan debar aneh itu pun kembali merayapi benaknya.
“Fina, maaf atas kejadian lalu yaa…” Ujarnya sambil memberikan Safina rangkaian bunga mawar segar. Gadis itu hanya terpaku. Namun tiba tiba Dimas meraih jemarinya dan mengajaknya untuk duduk bersisian. Dari balik jendela kamar, Liana menyaksikan semua itu dengan jantung yang terkadang lompat dari tempatnya. Ia memang selalu memiliki harapan dan doa, kelak ada ‘Pangeran’ istimewa yang suatu saat hadir dikehidupan Safina. Tapi ia tak pernah menyangka akan secepat ini. Sementara Dimas yang memang sudah tahu kondisi Safina, lebih banyak menatap wajah gadis itu. Dan Safina sendiri, terus saja tertunduk dalam sambil mencabuti kelopak kelopak mawar segar di tangannya. Tak banyak kata yang terucap. Namun Dimas semakin yakin. Pada kedalaman hati Safinalah ia ingin melabuhkan segala cintanya. Pada bias kemisteriusan di mata bening itulah, Dimas ingin menyelami dan mempelajari segala perbedaan pada diri Safina. Bukan semata karena kecantikan yang dimilikinya, tapi Dimas justru terpikat pada keunikan yang terpancar misterius namun terbalut keluguan alami di wajah dan cara berbicara Safina.

Dimas mendesah pelan seraya menatap wajah bidadari dihadapannya dengan senyum tulus. Dan ia pun yakin, Safina tak perlu rangkaian kata bermakna cinta. Sikap tenang dan nyaman yang dirasakan Safina, sudah merupakan jawaban bagi Dimas bahwa ia telah mendapat tempat terindah dihati gadis ini

Tuhan memang misterius dan unik. Ketika Ia kemudian menciptakan mahluk unik seperti Safina. Sepertinya tak ada alasan bagi kita untuk menolak kehadiran mereka. Segala sesuatu tercipta dengan satu alasan tertentu. Ada pesan, hikmah dan jutaan rahmat serta mukjizat bisa jadi tersimpan disana. Safina adalah harta berharga yang bentuknya seperti harta karun. Membutuhkan waktu yang panjang dan melelahkan untuk menemukan sesuatu yang berharga yang pasti ada dan terjanji sesuai suratan Ilahi.

TAMAT
 

 

Tentang Penulis: Ria Jumriati,

Selain pengurus WanitaOnline Society Ria juga adalah penulis novel, cerpen, puisi di Indonesia yang sangat menjunjung tinggi persamaan gender yang karya karya sudah di terbitkan. Info lengkap tentang Ria bisa di check di sini...>>>