Anakku Berbahasa Indonesia:

Lima Langkah Dasar Dalam Membesarkan Anak Multibahasa
Oleh: Santi Dharmaputra—Munich, Germany  (Anggota WOL)


Walaupun hidup di lingkungan berbahasa asing, mengajarkan anak berbahasa Indonesia adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Namun agar keinginan tersebut terwujud, sebaiknya orang tua mempersiapkan beberapa hal, yaitu:

1. Tujuan dan Motivasi
Mengapa Anda dan pasangan ingin membesarkan anak dalam bahasa Indonesia? Supaya anak bisa bercakap-cakap dengan sanak keluarga? Agar anak bisa berbahasa sehari-hari dan bahasa baku? Atau Anda ingin anak juga bisa lancar membaca dan menulis?

Tentukan tujuan multibahasa keluarga Anda. Penguasaan bahasa adalah suatu proses yang durasinya sama dengan membesarkan anak, di mana tantangan dan prestasi akan datang silih berganti. Jelasnya tujuan akan membangkitkan motivasi kuat, yang berfungsi sebagai penyangga kelangsungan permultibahasaan anak.

2. Memilih Strategi
Setelah menentukan tujuan, lihat rumusan perbahasaan Anda dan pasangan, apakah sama-sama petutur asli bahasa Indonesia? Apakah Anda lebih lancar berbahasa daerah? Apakah pasangan adalah petutur asli bahasa asing? Atau pasangan menguasai dua bahasa dengan sama baiknya? Berdasarkan rumusan orang tua, bisa diputuskan penerapan strategi yang paling cocok.

Strategi yang paling sering dipilih adalah:

a. Satu Orang Tua Satu Bahasa (SOTUSAB, terjemahan penulis atas istilah bahasa Inggris One Parent One Language-OPOL), di mana masing-masing orang tua berbicara bahasa yang berlainan ke anak. Misalnya, si ibu berbahasa Indonesia saja dan ayah hanya bahasa Jawa, ataupun si ibu berbahasa Jepang saja dan ayah hanya bahasa Indonesia; atau

b. Bahasa Minoritas di Rumah (BAMIR, terjemahan penulis atas istilah bahasa Inggris Minority Language at Home – ML@H), di mana percakapan di rumah dilakukan dengan menggunakan bahasa minoritas. BAMIR ini bisa diterapkan untuk lebih dari satu bahasa. Misalnya, keluarga Jeri yang bermukim di Hongaria selalu menggunakan bahasa Palembang saat pagi hari, dan berbahasa Indonesia di sore hari.

3. Konsisten dan Berkesinambungan.
Langkah selanjutnya, orang tua harus menerapkan strategi dengan konsisten dan terus menerus. Misalnya, jika ibu berbahasa Indonesia, gunakanlah selalu bahasa Indonesia saja. Jika ayah berbahasa Inggris, selalulah berbahasa Inggris. Jika menggunakan BAMIR, berbicaralah selalu bahasa minoritas selama di rumah.
Jika strategi dilakukan terputus-putus, anak juga akan mempelajari suatu bahasa dengan terputus-putus, sehingga hasilnya pun tidak maksimal. Jika tidak konsisten, misalnya hari ini ayah bicara Batak, esoknya ayah bicara Inggris, lusa tiba-tiba campuran Batak dan Indonesia, anak akan menjadi bingung karena tidak adanya pola yang jelas. Akibatnya, tujuan memultibahasakan anak akan sulit tercapai.

4. Hindari Mencampur Bahasa.
Saat orang tua sedang bercakap dalam suatu bahasa dengan anak, bicaralah dengan murni. Jangan mencampur adukkan satu bahasa dengan bahasa lainnya. Orang tua yang mencampur adukkan bahasa, akan menghasilkan anak yang juga berbicara dengan campur aduk. Contoh mencampur bahasa: “Come here, makan your food!” Atau , “You must not duduk-duduk di chair!”. Kalimat seperti ini membingungkan anak, karena menggunakan rumusan dari dua bahasa yang berlainan, sehingga sulit bagi anak untuk mempelajari tatanan suatu bahasa dengan benar.

Menurut teori, mereka yang menguasai lebih dari satu bahasa sangat sering mencampur bahasa (alih kode/code switch) untuk mempermudah dan mempercepat percakapan. Juga lumrah sekali bagi balita multibahasa untuk mencampur, karena itu adalah bagian dari proses pemisahan bahasa dalam otak balita. Namun seperti tersebut pada paragraf terdahulu, orang tua yang sedang membesarkan anak multibahasa sebaiknya menghindari mencampur bahasa saat berbicara dengan anak, agar anak bisa menangkap tatanan setiap bahasa dengan lebih mudah. Pemisahan bahasa yang jelas akan membantu setiap bahasa berkembang dengan seimbang, sehingga permultibahasaan anak bisa terwujud.

5. Gunakan Bahasa yang Paling Dikuasai
Jika orang tua memang hanya menguasai dan mempunyai satu bahasa ibu, sebaiknya besarkanlah anak dalam bahasa ibunya tersebut. Sebagai contoh, orang tua yang hanya menguasai bahasa Indonesia, tentunya membesarkan anak dalam bahasa tersebut.

Hindarilah membesarkan anak dengan bahasa yang kurang dikuasai. Contohnya, orang tua yang baru saja belajar bahasa Belanda, sebaiknya janganlah berbahasa Belanda dengan anak. Orang tua yang mengajarkan bahasa dengan tata bahasa, struktur, intonasi dan pilihan kata yang salah akan menyebabkan anak melakukan kesalahan yang sama pula dalam berbahasa.

Kalaupun orang tua merasa bahwa mereka menguasai bahasa asing dengan sangat baik, sebaiknya tetaplah berhati-hati jika memutuskan untuk membesarkan anak dalam bahasa asing. Karena penguasaan seseorang yang sangat bagus akan suatu bahasa asing, tidak menjamin bahwa kemampuannya sudah setingkat petutur asli. Ini berarti bahwa kemungkinan besar masih terdapat berbagai kesalahan tatanan bahasa khas petutur asing.

Jika orang tua tetap ingin meningkatkan bahasa asing anak melalui pengajaran di rumah, lakukanlah pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya saat membantu anak membuat tugas sekolah, atau saat sarapan saja. Komunikasi bahasa asing dalam topik dan waktu terbatas memudahkan orang tua untuk melakukan kontrol terhadap dirinya, sehingga anak tetap mendengarkan bahasa asing bermutu baik.

Di lain pihak, jika orang tua berkehendak untuk membesarkan anak dalam bahasa asing, tentu tidak ada yang melarang. Namun, sebaiknya orang tua tetap bercermin dan selalu memperbaiki kemampuan bahasa asingnya sendiri, demi terjaminnya kualitas bahasa asing yang didapat anak. Juga, alangkah baiknya jika hanya satu orang tua saja yang berbahasa asing, supaya orang tua yang satu lagi tetap membesarkan anak dalam bahasa Indonesia.

6. Bersabar dan Terus Bersemangat
Penguasaan bahasa adalah suatu proses, di mana tantangan dan hasil akan datang silih berganti sesuai dengan bertambahnya usia anak.
Sangatlah lumrah jika orang tua merasa bahwa si anak multibahasa masih terus berbahasa bayi, sementara temannya yang berbahasa tunggal sudah bisa berbicara jelas dalam kalimat yang panjang. Banyak juga orang tua yang terbawa untuk bercakap dengan bahasa asing, karena anak selalu memulai percakapan dan menjawab dalam bahasa tersebut. Ditambah lagi dengan tekanan lingkungan yang kadang tidak bersahabat dengan konsep multibahasa.
Hal-hal seperti itu adalah contoh dari sedikit tantangan yang sering dihadapi oleh orang tua. Untuk saya pribadi, saat tantangan datang, saya selalu mengingat kembali tujuan dan motivasi dari permultibahasaan keluarga kami. Kami ingin agar anak-anak kami, yang berdarah campuran Indonesia dan Prancis, mampu berbicara dan membaca dalam bahasa-bahasa ibu kami. Saat tantangan datang, bayangan bahwa suatu saat nanti mereka bisa membaca buku berbahasa Indonesia dan Prancis, cukuplah bagi saya untuk membangkitkan semangat dan ide dalam mencapai tujuan kami bermultibahasa.

...... ikuti sambungan kolom ini pada WOL edisi berikutnya .....

Tentang Penulis: Santi Dharmaputra, SH, LLM, adalah anggota WOL di Munich, Jerman yang mempunyai hobi tulis menulis. Kami pengurus WOL sangat berterima kasih kepada Santi yang telah bersedia untuk berbagi artikel ini kepada sahabat-sahabat WOL.. Untuk lebih mengenal Santi bisa mengunjungi website nya di  http://trilingual.livejournal.com/profile

*** Bacaan Selanjutnya (Further Readings)

1. Baker, C. (2000). The Care and Education of Young Bilinguals: An Introduction for Professionals. Multilingual Matters, Ltd.
2. Tokuhaman-Espinosa, T. (2001). Raising Multilingual Children: Foreign Language Acquisition and Children. Greenword Publishing Group, Inc.
3.
http://www.omniglot.com