Pamukkale – Kota Benteng Putih
Oleh: Sylvia Marken—Saarland, Germany

Kota yang terkenal dengan sebutan istana putih ini menyimpan rahasia kebesaran alam. Keajaiban alam yang merubah sebuah pegunungan disana menjadi seputih salju itu tak lain adalah air yang mengandung kapur yang sangat tinggi. Tak hanya itu, Pamukkale juga menawarkan pemandangan yang indah dan menyimpan masa lalu sejarah yang tak terkira harganya bagi wisatawan yang datang mengunjunginya.

Dahulu kala kota ini terkenal dengan nama Hierapolis, kota yang dibangun bagi Hiera, permaisuri raja Eumenes II dari Pergamon. Selain itu di kota ini rasul Filipus, salah satu dari duabelas murid Nabi Isa, berasal dan dikuburkan, sehingga sering juga kota ini disebut oleh orang Turki sebagai kota suci. Namun sekarang nama kota ini diganti ke dalam bahasa Turki menjadi Pamukkale. Orang-orang Turki juga sering menyebutnya sebagai istana putih atau benteng putih. Hal ini dikarenakan trade-mark kota ini, yaitu teras alam putihnya serta sumber air panas.

Teras alam putihnya ini sangat menakjubkan, semuanya serba putih dikarenakan proses pengapuran alam. Entah kenapa, air yang mengalir di pegunungan ini mengandung kapur yang sangat tinggi, sehingga mampu merubah air nan jernih dalam beberapa hari menjadi kapur. Sejak berdirinya kota ini, teras alam tersebut sudah menjadi pusat permandian air panas. Orang-orang dapat menikmati air hangat di teras-teras alam yang terbentuk menjadi kolam-kolam kecil ini, sambil menikmati pemandangan yang indah. Apalagi di saat matahari terbenam, sinar matahari senja yang menyapu pegunungan nan putih beserta teras alamnya yang berwarna putih ini akan membiaskan sinar-sinar pelangi nan indah. Benar-benar suatu pemandangan yang tak dapat dilukiskan keindahannya. Selain terkenal sebagai tempat berlibur, orang-orang Romawi juga mengetahui, bahwa khasiat air panas dari tempat ini mampu menyembuhkan beberapa penyakit, seperti reumatik dan penyakit kulit lainnya. Tak heran, sejak jaman romawi tempat ini sudah menjadi pusat wellness and spa.

Beberapa tahun yang lalu teras ini masih bisa digunakan untuk mandi dan berendam, namun karena semakin banyaknya turis yang mendatangi tempat ini, sehingga membuat rusak teras alam nan indah. UNESCO yang peduli mengenai hal ini kemudian meresmikannya menjadi pusat perlindungan tempat budaya. Untuk menghindari kerusakan yang semakin parah, maka untuk mengunjungi tempat ini sekarang, diharuskan bertelanjang kaki, sehingga tidak membuat air di tempat tersebut kotor dan teras-teras alam tersebut tidak bertambah rusak. Sebenarnya teras-teras alam yang terbentuk sangat banyak, namun beberapa tempat sudah ditutup, sehingga kita hanya bisa melihat dari kejauhan. Walaupun begitu tidak mengurangi keindahan alam yang ada di sini.

Sebelum memasuki areal teras alam ini, terdapat sebuah Nekropole (kota mati) yang besar dengan ribuan kuburan kuno dan sakrofagusnya dalam berbagai model. Masih terdapat juga benteng-benteng kota, jalanan yang teratur rapi, reruntuhan, dan berbagai hal lainnya yang layak ditemukan di kota mati dari jaman romawi. Segala sesuatu yang terdapat di areal ini berasal dari jaman antik, bahkan sampai kepada bebatuannya. Dilarang keras bagi para turis untuk membawa bebatuan dari tempat ini, walaupun mungkin terlihat seperti batu biasa. Karena jika kita keluar dari negeri Turki, segala barang kita akan diperiksa oleh security. Jika ketahuan kita membawa sebuah batu yang berasal dari jaman antik tersebut, maka dianggapnya kita sebagai pencuri barang-barang antik. Hal ini pernah menjadi laporan utama di salah satu majalah terkenal di Jerman, dimana seorang pemuda mengantongi batu yang dianggap olehnya biasa dari Pamukkale ini, sehingga waktu di airport dan semua barangnya diperiksa, ditemukan batu biasa tersebut, kemudian dia harus mendekam dalam penjara di Turki selama beberapa bulan, sampai akhirnya bebas dengan uang jaminan.

Areal Nekropole ini sungguh sangat luas. Disini dapat ditemukan juga Agora. Agora merupakan sebutan tempat utama dalam sebuah kota pada jaman yunani kuno. Fungsinya selain sebagai sebuah alun-alun kota, pasar, juga merupakan jantung budaya dan politik sebuah kota. Sayang, Agora ini masih dalam masa penelitian oleh para arkeolog dari berbagai negara, sehingga tidak diijinkan untuk masuk ke tempat ini. Namun persis disebelah Agora ini, terdapat jalan raya utama dengan pilar-pilar kotanya yang tinggi, menanjak lurus ke arah Amphi Theater. Amphi Theater yang ada di reruntuhan kota ini tidaklah semegah dan sebesar Amphi Theater di Aspendos. Namun cukup megah dan besar di tengah-tengah reruntuhan kuno yang ada.

Tidak berapa jauh dari Amphi Theater ini, terdapat sebuah restoran dengan kolam renang. Kolam renang yang ada di tempat ini bekas peninggalan romawi. Sangat menyenangkan berenang di tengah-tengah puing-puing reruntuhan untuk berenang di kolam renang tersebut dipungut biaya sebesar 1 Euro.

Siapapun yang datang berkunjung kesini akan terpesona dan tak bosan-osannya untuk sekali lagi berkunjung kesana. Sebab tak hanya keajaiban alam yang ditawarkan, melainkan juga nilai sejarah yang tak terkira.

 

  

 

* Kami pengurus WOL sangat berterima kasih pada Sylvia yang bersedia untuk berbagi tulisan nya kepada sahabat sahabat di WOL ini.