Melintasi Camargue menuju Aigues-Mortes

Oleh Dessi Wulandhari Peuziat, (Istres, France)

Anggota WOL - FB

Sabtu besok udara tampaknya akan cerah. Hmm.. sepertinya akan asyik kalau jalan-jalan, setelah 3 bulan lebih kedinginan di musim dingin.

« Kita ke Aigues-Mortes aja yuk ! », ajak Hervé.

Wah, namanya kok serem sih ? Aigues-mortes kan artinya air mati. Tapi sudahlah, kita lihat saja besok, sengeri apa kota air mati itu….

Sabtu pagi, sambil menunggu Hervé membuat bekal sandwich, aku sempatkan panen dan menanam tomat di FV (hihihi)… mmMMm.. pasti seru dan menyenangkan sekali nih piknik hari ini, sandwichnya spesial !


Le Bac de Barcarin

Perjalanan sudah mulai terasa menyenangkan ketika menyeberangi sungai dengan menggunakan kapal penyeberangan mini yang disebut Le Bac de Barcarin. Kapal ferry mini ini menghubungkan kotaPort-Saint-Louis-du-Rhone dan Salin-de-Giraud yang dipisahkan oleh sungai Grand Rhone.Perjalanan dimulai. Seperti biasa aku, yang suka disorientasi jika harus membaca peta lalu harus mengaplikasikannya pada jalur, marka dan jembatan layang, belokan, apalagi kalau hanya sambil duduk bengong terkantuk-kantuk di samping pak supir, menolak untuk berdiskusi panjang lebar menentukan jalur mana untuk menuju ke Aigues-Mortes. Lewat jalan tol Arles atau melalui Camargue dengan pertimbangan jarak dan waktu bla..bla..bla... Aku menukas, «Yang pemandangannya bagus aja ». «Kalo gitu, ayo lewat Camargue! » jawab Hervé cepat. Aha! Pilihan tepat ! (tapi kalimatnya kepanjangan.. !!!! Hahah)

Surga Camargue

Mulailah kami memasuki wilayah Camargue, suaka alam regional (Hm, tapi agak ragu juga nih tentang status kawasan konservasi ini, ada yang bilang sudah menjadi taman nasional) adalah surga bagi para burung, kuda dan banteng (des taureaux). Bener kan, tidak hanya dari kejauhan tapi di pinggir jalan, puluhan benteng dan kuda asyik makan rumput. Tidak tahan, kami berdua turun dari mobil untuk melihat lebih dekat. Memang benar-benar surga! Tapi, hadoh !, lupa nih bawa anti mustique (anti nyamuk), tangan jadi bentol-bentol. Ternyata surga juga buat para nyamuk ! Hervé malah dapat bonus di jidat!

Kuda Camargue memang selalu putih, tapi anak-anaknya berwarna coklat atau agak kehitaman. Ketika dewasa bulu-bulunya akan berubah putih mengkilat indah. Oh là là… indah nian pemandangan, melewati Étang de Vaccarès (danau Vaccarés), menyusuri rawa-rawa dan melihat dari kejauhan gerombolan flamants roses (burung flamingo pink). Tapi ingat, tujuan utama adalah ke kota Aigues-Mortes, di ujung barat, jadi mari bergegas melanjutkan perjalanan.

Akhirnya sampai di kota Aigues-Mortes. Sebuah kota benteng masa lalu dengan dindingnya yang kokoh dan menaranya yang megah terpampang di depan mata. Waduh, tapi lapar nih, dan teringat pada sandwich buatan Hervé. Kruyuk..kruyuk.. Jadilah kami mampir dulu ke tepi pantai Port Camargue di kota Grau du Roi, sebelah kota Aigues Mortes.

Aigues-Mortes

Setelah itu, mulailah perjalanan mengunjungi kota di dalam benteng. Nama Aigues-Mortes berarti "air-mati" mengacu kepada hamparan rawa-rawa asin yang banyak terdapat di wilayah ini yang nyaris tidak ada gerakan pasang surut.

Pada abad ketiga belas, St Louis membangun kota Aigues- Mortes, saat wabah malaria berjangkit di Camargue. Bangunan benteng dengan menara, yang disebut « Tour de Constance » diselesaikan dalam waktu kurang dari lima puluh tahun. Inilah kota pertama di pesisir laut Mediterania yang dikuasai kerajaan Perancis. Menara Constance pernah juga dijadikan penjara bagi orang-orang Kristen Protestan pada awal perkembangan agama Protestan. Kemunduran dirasakan mulai abad keempat belas karena pendangkalan saluran dan pelabuhan, dan persaingan dari kota pelabuhan Marseille. Saat ini, kota Aigues-Mortes merupakan salah satu bangunan arsitektur militer abad pertengahan militer yang paling indah dan masih terjaga dengan baik.

Berkeliling sesaat di dalam kota di dalam benteng. Seperti kota turistik lainnya, toko-toko souvenir dan restoran menjamur. Lihatlah di seberang pintu masuk utama, La porte de la Gardette, di tengah lapangan La place Saint-Louis, berdiri tegak patung Saint Louis, Raja Perancis yang mendirikan benteng. Lalu mulailah kami berjalan mengeliling benteng. Merasakan kehidupan abad pertengahan. Tidak seperti benteng Carcassonne yang mengalami pemugaran dan perbaikan, benteng Aigues-Mortes adalah tetap asli. Tentu saja karena tidak pernah mengalami serangan musuh.

Tidak terasa 4 jam berkeliling, memotret, menikmati pemandangan dan mendapatkan pengetahuan sejarah (yang terakhir tidak terlalu banyak, lebih banyak memotret dong !). Sepertinya aku butuh satu tulisan terpisah, khusus bercerita tentang benteng Aigues-Mortes.

Perjalanan pulang tidak kalah menarik ! Kami menemukan sepasang flamingo pink sedang berduaan di rawa di tepi jalan. Hmm.. tidak terlalu dekat sih, tapi lumayan senang dengan hasil fotonya membuat ingin berlama-lama di Camargue. Sudah jam 8 malam, tapi matahari baru terbenam saat menyeberang sungai Grand Rhone. Inilah matahari musim semi. Tidak pernah bosan untuk sering melintasimu Camargue ! dan wahai Aigues-Mortes, indahmu tak seseram arti namamu!

Tentang Penulis:

Dessi Wulandhari Peuziat adalah anggota dan sahabat WOL yang tinggal di Istres, Perancis Selatan. Trying to go green & blue, demikian yang berusaha dilakukannya sehari-hari oleh Dessi. Diwaktu senggang, Dessi pun gemar membaca, menulis dan memotret.

 

Semua tulisan &  photography nya diabadikan dalam karya-karya dalam note nya facebooknya yang begitu indah.

 

Kami Tim Newsletter sangat berterima kasih pada Dessi yang bersedia untuk berbagi artikel ini. Tentu nya kami tunggu artikel2 nya yang berikutnya...

 

Semua foto dalam artikel ini adalah milik & copyright © Dessi Wulandhari Peuziat

 Photography 2010