Oleh Arfi Binsted - Tuakau, New
Zealand
Anggota WOL - MP & FB
gifts from
my children :)) aren't I lucky!
"Kasih Ibu kepada beta
tak terhingga
sepanjang masa
Hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia."
Hari yang
bahagia menjadi seorang ibu, manakala jemari-jemari lembut permata hati menjadi
sebuah asesoris dunia, menyentuh sanubari, memoles kesungguhan murninya cinta
Allah, mengukuhkan sebuah peran, bahwa akulah seorang ibu. Rangkulan sayang yang
terkadang sedikit menitikkan rayuan, seringkali menjadi sebuah lamunan indah
pengisi waktu senggang, mau tak mau menjadi sebuah helaian rembulan malam.
Cinta itu membongkah, lalu menyebar bagai titik-titik embun di kuncup-kuncup
melati, menyinari makna sebuah keagungan Ilahi, bahwa kasih sayang itu berada
dalam lubuk hati, bagaikan endapan pundi-pundi cahaya emas, menggeliat dalam
kesejatian, lalu menyeruak menyelimuti aura, yang kuterima dalam kembangan jiwa,
merangkum jiwa-jiwa muda nan lembut manja, ke dalam sebuah bejana permata.
Terima kasih Tuhan atas peran yang Kau berikan padaku. Akan kujaga dan kucintai
selalu kekasih-kekasih permata hatiku, seperti Engkau menjaga dan mencintai
ibuku.
--
Anak-anak merupakan batu-batu permata mentah, berbongkah-bongkah, tak rata,
bergelombang, dan tak dapat ditebak. Tetapi, sebagai orang tua, kita berperan
sebagai sebuah asahan, yang membuat bongkahan batu itu menjadi halus, kasar atau
berbentuk bulat, lonjong, segi empat, persegi panjang, segi delapan, tergantung
pada asahannya. Makin diasah akan makin halus. Tidak diasah akan tidak berbentuk.
Sebagai seorang ibu dan home-educator, aku menikmati betul saat-saat kebersamaan
dengan anak-anak. Tak luput dari perhatianku segala kekurangan dan kelebihan
mereka, semua minat dan kemauan mereka, tingkah laku dan kebiasaan mereka.
Buatku, mereka adalah segalanya. Sebuah karunia. Sumber cinta kasih sayang,
puncak dari kenikmatan peranku sebagai seorang wanita.
Cinta rasanya tak lengkap tanpa mencintai mereka. Detik-detik waktu terasa
lengang tanpa gelak tawa canda riang mereka. Entahpun saat mereka bersikeras
pada sebuah kemauan, toh seni sebuah peran selalu ada pada saat tantangan itu
terpampang di depan mata, dan menjadikan aku semakin mawas diri akan keberadaan
mereka di dalam keluarga, bahwa mereka juga memiliki pribadi-pribadi yang unik
yang patut dihormati. Sebuah tantangan persoalan bukan untuk ditepis, melainkan
untuk dirangkul, dimengerti, dan dicarikan solusi dalam kesepakatan,
kekeluargaan, dan kasih sayang.
Sebagai manusia biasa, aku pun memiliki kelemahan dan kekurangan. Dan, aku tidak
merahasiakannya kepada anak-anakku, supaya mereka dapat mengerti dan menerima
aku apa adanya. Akupun bukan mahluk superior yang selalu berpendapat benar,
untuk itu, ku selalu lapangkan dadaku, menerima pendapat, usul, opini, juga
gagasan mereka sebagai sebuah lahan pengembangan karakter mereka di depan hari.
Aku telah banyak menerima pembelajaran hidup terhadap karakter-karakter keras di
dalam keluarga besar, dan kujadikan sebuah sejarah dan mata perbandingan, bahwa
aku tidak akan memperlakukan anak-anakku seperti aku diperlakukan masa laluku.
Buatku, anak-anakku cinta-cinta yang berharga, yang tidak harus dicubit, dipukul,
dipecut dengan tali pinggang atau rotan, karena masih banyak cara yang lebih
lembut tetapi tegas untuk membentuk mereka menjadi pribadi-pribadi yang mandiri,
percaya diri, sopan santun, dan mawas diri di dalam keluarga, lingkungan dan
masyarakat dunia.
Peranku bagaikan sebuah bejana, yang rela menampung semua keluh kesah suami dan
anak-anakku. Tak ada kebahagiaan yang sempurna buatku selain dipercayakan
mendengarkan setiap persoalan, lalu berkontribusi memberikan solusi atau sekedar
merangkul semua curahan hati. Komunikasi sangat penting dan rahasia-rahasia
tidak ada yang tak terungkap dan tak diungkapkan. Tak ada sebuah misteripun di
dunia ini yang mampu meretakkan sebuah hubungan selain rahasia yang tak
terungkap yang pada akhirnya diungkapkan lewat jalan yang salah atau tak
diterima oleh pihak lain. Buatku, kejujuran sangat penting, baik terhadap suami,
maupun terhadap anak-anak.
Aku sangat bahagia. Allah telah memberikan sebuah anugerah, rahmat, dan
hidayahNya yang tak terhingga, yang tak mampu kubalas hanya dengan dzikir dan
rekatan dahi di sajaddah. Sebisanya aku mengabdikan diriku untuk suami dan
anak-anakku, dengan seluruh kekuatan yang Allah peliharakan untukku. Kekuatan
cinta, ketulusan, kepasrahan, dan keiklhasan.
Semoga, semoga kebahagiaanku ini juga menyinari kebahagiaanmu, sahabat-sahabat
wanitaku di dalam peranmu sebagai seorang Ibu, Wanita, Istri, dan Kekasih.
Happy Mother's Day
Tentang
Penulis;
Arfi Binsted
adalah anggota
dan sahabat WOL yang
tinggal di Tuakau, New
Zealand
yang memiliki bakat
yang sangat menonjol dalam
bidang menulis, culinary dan
photograhy.
Untuk melihat
kolaborasi unik dan
menarik dari dua
bidang yang dikuasai
Arfi yaitu kuliner
dan photography,
Sahabat WOL bisa
melihat kreasi Arfi yang di abadikan lewat
kameranya lewat
blognya yaitu
Ucapan terima kasih:
WOL mengucapkan terima kasih
kepada Arfi yang telah
bersedia meluangkan waktu memberikan
sumbangan artikel menariknya diantara kesibukannya. Tentunya, WOL berharap,
Arfi akan
lebih sukses lagi dimasa datang.