Go green 1 (sampah)
Oleh Va Nukman,
Indonesia
Anggota WOL - MP
Beberapa waktu lalu
saya mengisi sebuah
jajak pendapat
mengenai gaya hidup.
Dari sekian banyak
pertanyaan yang
diajukan, salah
satunya adalah
seberapa „hijau“
hidup saya. Saya
diminta mencentang
kalimat yang
mewakili hal apa
yang sudah saya
lakukan, semisal
membawa tas belanja
saat berbelanja,
mematikan lampu saat
ruangan tidak
dipakai, and so on.
Walau rasanya sudah
cukup banyak yang
saya lakukan untuk
ikut menyelamatkan
bumi semisal menanam
pohon, memuat sumur
resapan, menolak
stereofoam, dan
mengurangi sampah
plastik, perlu saya
akui bahwa saya
belum terlalu
nature-friendly.
Misalnya, saya tidak
terlalu peduli
sayuran dan buah
yang kami makan
bebas pestisida atau
tidak, telur atau
daging yang kami
konsumsi berasal
dari hewan yang
dikerangkeng ataukah
bebas bahagia di
peternakan.
Reduce,
yup kami sudah
berusaha mengurangi
sampah.
Reuse,
yup ini sudah cukup
biasa dilakukan
kebanyakan
masyarakat
Indonesia. Saking
terbiasanya, kita
malah sering
menumpuk-numpuk
barang tak berguna
dengan alasan „kalau-kalau
nanti masih dipakai
lagi“.
Recycle,
nah ini susah,
setidaknya bagi saya.
Melakukannya sendiri
saya belum
berkemampuan (atau
berkemauan?). Saya
baru sampai pada
taraf berkeinginan,
misalnya membuat
kompos. Tetapi saya
sudah berusaha
memisahkan sampah
yang kami hasilkan:
kertas, kemasan
plastik, sampah
rumah tangga.
Sayangnya mobil
pengangkut sampah
tidak membedakannya,
upaya saya seperti
nyaris sia-sia.
Nyaris, karena masih
ada manfaatnya bagi
pemulung. Mereka (mestinya)
tidak harus
mengorek-ngorek tong
sampah saya untuk
mendapatkan barang
yang „layak jual“.
Kenyataannya, sejauh
ini mereka yang
datang dan pergi
belum memercayai „pembagian“
sampah saya. Semua
kantong sampah
dirobek, dituang.
Keadaan ini
diperburuk oleh
kucing-kucing liar
yang dengan senang
hati menggondol
tulang-tulang yang
berserakan, dan
menggerogotinya di
tempat yang nyaman
menurut mereka. Bisa
jadi di kolong mobil,
di taman, atau di
sengkedan.
Terpikir oleh saya
untuk membuat
pengumuman. „Sampah
sudah dipilah,
tolong jangan
dibongkar-bongkar
lagi“. Amboi, saya
bakal salut kalau
ada pemulung yang
menyempatkan diri
membaca dan memahami
maksud tulisan itu.
Pernah pula saya
berencana untuk
memberikan
pemberitahuan
langsung kepada
orang-orang yang
bersangkutan. Tetapi
itu berarti saya
harus patroli,
karena mereka datang
sesukanya, bukan
pada jam yang bisa
ditentukan. Haloo....
emangnya saya kurang
kerjaan, apa? (lha,
saya membuat kue
lebaran saja
ditanggapi
pertanyaan yang sama
oleh seorang rekan
penerjemah „kayak
kurang kerjaan aja!“
hahaha).
Satu persoalan lagi
dalam hal membuang
sampah adalah
baterai bekas. Saat
ini baterai bekas
kami sudah memenuhi
laci, walau satu-dua
pernah juga dengan
mata terpejam saya
buang ke tempat
sampah biasa. Sejauh
ini baru swalayan
"C" yang saya lihat
menyediakan tempat
penampungan baterai
bekas. Malangnya,
kami tidak selalu ke
sana. Kalaupun ke
sana, para baterai
tadi lupa pula
dibawa. Ada info
tempat lainnya?
T
entang Penulis;
Eva Y. Nukman,
adalah anggota WOL
yang tinggal di
Jakarta Indonesia,
selain bekerja
apoteker, Eva juga
yang bekerja lepas
sebagai penerjemah,
penyunting, dan
penulis, yang
menurut Eva jika ditanya tentang pekerjaaan Eva selalu menjawab "orang
merdeka":)
Jika
sahabat WOL
ingin berkenalan
dan
langsung
melihatnya semua
kreativitinya Va melalui
tulisannya yang
terdapat didalam
Blog
MP Va @
http://vayenukman.multiply.com
Ucapan terima kasih
WOL mengucapkan terima kasih
kepada Va yang telah
bersedia meluangkan waktu memberikan
sumbangan artikel yang
menarik ini diantara kesibukannya. Tentunya, WOL berharap,
Va akan
lebih sukses lagi dimasa datang.